Pengumuman


Blog ini tidak diperbarui atau posting artikel lagi. Selanjutnya silakan kunjungi hurahura.wordpress.com
Tampilkan postingan dengan label Arca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arca. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Januari 2010

Arca Kuno Asli dan Arca Kuno Palsu


Seiring maraknya bisnis arca-arca kuno, tentulah ada pikiran negatif untuk menipu konsumen. Dari sejumlah perajin arca di Desa Prumpung, Magelang, diketahui ada berbagai cara untuk membuat suatu arca agar berkesan antik. Selain diberi perasan air kunyit atau air teh, arca pun harus dipendam di dalam tanah selama beberapa bulan.

Buat masyarakat awam, termasuk para arkeolog, memang terasa sulit apabila harus mengidentifikasi mana arca asli dan mana arca palsu. Apalagi jika seorang pakar hanya melihat gambarnya, tanpa mengamati detil, tekstur, atau kelenturan (plastisitas) koleksi. Namun sekadar gambaran, menurut penelitian para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno), setiap arca Buddha dan Hindu sudah memiliki gaya dan ciri tertentu.

Penggambaran arca Buddha diketahui sangat sederhana. Tanpa sesuatu hiasan, hanya memakai jubah. Tanda-tanda utamanya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Tokoh (dewa) mana yang dilukiskan oleh arca Buddha itu, diketahui lewat sikap tangan (mudra) dan ciri khusus lain (laksana) setiap tokoh. Agama Buddha mengenal Dhyanni-Buddha, Dhyanni-Boddhisattwa, dan Manusi-Buddha. Masing-masing berjumlah lima dan menempati empat arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, Timur) ditambah satu di pusat.

Dalam agama Hindu, arca dihubungkan dengan seorang raja yang telah wafat. Arca tersebut ditempatkan di dalam candi karena dianggap titisan dewa. Sebagai pendamping, kemudian dibuatkan beberapa arca dewa-dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa lainnya, maka setiap arca digambarkan dengan laksana sendiri-sendiri.

Setiap arca dewa pun memiliki ciri dan menempati lokasi tertentu sesuai dengan delapan arah mata angin, seperti halnya arca Buddha. Dengan demikian mudah diidentifikasi bila terjadi pencurian, pemenggalan, atau perbuatan negatif lainnya terhadap arca-arca kuno itu.


Dua Langgam

Umumnya arca merupakan bagian dari suatu candi. Karena terbuat dari batu, tentulah bobotnya terlalu berat. Maka agar lebih ringan, sebagai gantinya masyarakat kuno membuat arca logam yang relatif kecil untuk persembahan atau pemujaan di rumah. Justru bagi para peneliti zaman sekarang, mengidentifikasi arca logam memiliki sedikit kendala dibandingkan arca batu.

Arca logam mudah sekali diangkut ke sana ke mari, sehingga sukar ditetapkan apakah arca logam itu benar-benar diperoleh dari suatu situs arkeologi atau bukan. Kesulitan lainnya adalah menentukan masa sejarah arca tersebut, kecuali kalau ada tulisan atau angka tahun. Karena itu, perkiraan umur arca logam biasanya hanya berdasarkan pada corak atau bentuknya.

Lagi pula, umumnya kesenian India terikat oleh beberapa peraturan, meskipun peraturan-peraturan itu tidak membekukan daya cipta para seniman. Semuanya tersirat pada sejumlah kitab, seperti Silpasastra, Visnudharmottaram, dan Vastusastra (Sutjipto Wirjosuparto, Sedjarah Seni Artja India, 1956).

Keindahan seni India bisa dilihat dari bagian-bagian badan arca yang proporsional. Misalnya jarak antara mata harus sekian tala (semacam ukuran panjang). Begitu juga jarak dari mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dan seterusnya.

Selain itu, bagian-bagian arca harus menyerupai atau mendekati bentuk sesuatu yang dijadikan “patokan utama”. Beberapa persyaratan itu, harus menyerupai hewan atau tumbuhan yang dianggap fantastis. Bagian-bagian badan yang dianggap paling vital adalah muka, kening, mata, telinga, hidung, bibir, leher, dagu, dada, bahu, tangan, jari, pinggang, kaki, dan lutut.

Pada dasarnya seni pahat arca kuno di Indonesia terbagi atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Arca langgam Jawa Tengah dinilai sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya. Arca langgam Jawa Timur agak kaku, mungkin karena sengaja disesuaikan untuk menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat (Soekmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 1973).

Berbagai ciri pada arca juga menjadi petunjuk untuk menempatkannya dalam masa sejarah tertentu. Arca-arca dari masa Singasari, misalnya, mempunyai kekhususan dibandingkan arca-arca dari masa Majapahit. Begitu pula sebaliknya.

Mudah-mudahan dengan pengenalan singkat ini, Anda tidak tertipu oleh arca kuno yang ternyata palsu. (DJULIANTO SUSANTIO)

Banyak Arca Kuno Masih di Tangan Kolektor


Benda antik, apa pun bentuknya, selalu menarik perhatian orang untuk mengoleksinya. Ada berbagai alasan mengapa orang berantusias menjadi kolektor barang antik, antara lain sebagai hobi, demi gengsi, meningkatkan status sosial, dan juga karena nilai komersialnya yang tinggi. Kepuasan semakin bertambah apabila benda-benda itu tergolong unik, langka, artistik, dan bernilai historis. Maka tanpa disadari, dampak utama adanya kolektor barang antik adalah adanya pencurian dan segala perbuatan negatif lainnya terhadap benda-benda purbakala.

Di antara berbagai benda antik, salah satu artefak yang menjadi perhatian para kolektor adalah arca kuno, baik arca batu maupun arca logam. Karena ada kolektornya, maka perdagangan arca kuno semakin marak. Karena perdagangan semakin marak, maka pencurian pun merajalela. Bahkan yang ironis, secara berbarengan pernah dilakukan pencurian dan pemalsuan koleksi Museum Radya Pustaka Solo akhir 2007 lalu oleh orang dalam sendiri.

Umumnya, arca-arca kuno yang diincar pencuri adalah arca batu. Hal ini karena arca-arca batu biasanya terdapat di tempat terbuka yang lemah pengawasan, terpencil, dan merupakan bagian dari candi. Berbagai upaya pemenggalan, penyongkelan, dan penggotongan dari berbagai situs purbakala, sering terjadi di berbagai pelosok daerah sejak lama.

Dengan mengiming-imingi sejumlah uang kepada penduduk desa yang masih lugu, maka “operasi fajar” yang dilakukan para penadah barang antik atau orang suruhannya sering kali membuahkan hasil. Agar memperoleh keuntungan besar, maka arca-arca ilegal itu biasanya dijual kepada sindikat internasional atau turis mancanegara.

Berbeda dengan arca batu, arca logam lebih sulit dicuri orang. Umumnya, karena bentuknya yang kecil dan ringan, arca-arca logam tidak dibiarkan berada di tempat terbuka. Artefak-artefak itu hampir selalu disimpan di dalam museum yang tentu saja lebih ketat penjagaannya.

Entah dengan cara apa, banyak dari barang-barang itu kemudian bisa dengan mudah diselundupkan ke luar negeri. Banyak kejadian “unik” di negara kita, misalnya, arca-arca batu yang hilang dari candi-candi di Jawa, tiba-tiba sudah berada di mancanegara. Bahkan, muncul dalam katalogus sebuah balai lelang ternama. Kejadian serupa juga pernah dialami arca batu dari Candi Borobudur dan arca logam temuan dari Kalimantan tahun 2005 lalu.

Ironisnya, arca-arca logam yang diduga kuat merupakan hasil curian itu berhasil terjual dalam pelelangan di Belanda dengan harga miliaran rupiah. Yang ajaib, banyak kolektor Indonesia membeli barang-barang curian itu di mancanegara, lalu membawanya pulang ke Indonesia tanpa tahu bahwa barang-barang itu merupakan hasil curian. Ini pernah dialami oleh Hashim Djojohadikusumo dalam kasus Museum Radya Pustaka Solo. Ketika itu ybs membeli sejumlah arca dalam pelelangan di London, Inggris.


Kebesaran Sejarah

Mengapa arca kuno banyak diburu kolektor, tentulah tidak lepas dari kebesaran masa sejarah kuno sekaligus sejarah kesenian yang pernah dialami bangsa kita. Sejak abad ke-5 Masehi, sejumlah kerajaan kuno mulai berdiri di Indonesia. Ada kerajaan yang bercorak Hindu dan Buddha. Ada pula kerajaan atau kesultanan Islam. Kerajaan-kerajaan ini terdapat di sejumlah pulau dan kota di seluruh Indonesia.

Kerajaan-kerajaan besar itu bukan hanya meninggalkan bangunan-bangunan megah seperti candi, tetapi juga artefak-artefak kecil macam arca. Apalagi kala itu perdagangan dengan dunia luar kerap berlangsung meriah. Banyak arca (disebut arca lepas) yang merupakan benda dagang dan benda persembahan juga ditemukan di berbagai situs arkeologi.

Artefak kuno yang berupa arca memang sejak lama selalu menarik perhatian para kolektor. Yang paling diagung-agungkan adalah karena ukirannya begitu indah dan kerap berbeda antara langgam yang satu dengan langgam lainnya. Penggambarannya begitu alami dan hidup, menandakan keterampilan tinggi seniman pembuatnya. Arca kuno pun memiliki fungsi dekoratif, sehingga sering dipakai sebagai penghias ruangan. Dengan demikian, kemungkinan harga komersialnya menjadi tinggi, tidak terelakkan lagi.

Sebenarnya, apresiasi terhadap koleksi arca kuno bukan hanya didominasi warga asing. Sejumlah orang Indonesia juga sudah memiliki minat terhadap benda-benda itu. Banyak dari mereka justru tidak memandang arca sebagai benda investasi, melainkan sebagai benda budaya yang pantas dilestarikan.

Beberapa kolektor lokal yang menggemari arca kuno antara lain Go Tik Swan (KRT Hardjonagoro). Selama bertahun-tahun dia berburu arca-arca kuno. Dia pun memberi wasiat bahwa setelah meninggal, koleksi-koleksi tersebut akan diserahkan kepada sebuah museum di kota tempat tinggalnya, Solo.

Seorang pengusaha hotel di Malang, Anhar, juga banyak mengoleksi arca kuno. Arca-arca tersebut dia tempatkan di beranda hotelnya, bahkan hingga ke setiap penjuru ruangan dan kamar.

Kegiatan mengoleksi arca kuno pernah digeluti mantan Wakil Presiden Adam Malik. Begitu juga dengan Hashim Djojohadikusumo yang memiliki sebuah yayasan pelestarian warisan budaya. Kalau kita memandangnya dari sudut pelestarian, tentu upaya yang mereka lakukan patut diacungi jempol.


Penjajahan

Menurut catatan sejarah, pada masa penjajahan banyak arca kuno menjadi penghias rumah-rumah pejabat Hindia Belanda. Di Gedung Agung Yogyakarta, misalnya, sampai kini masih tersimpan sejumlah arca yang berasal dari candi-candi di dataran Prambanan dan Sorogedug. Boleh dikatakan, arca-arca yang masih berada di luar situs atau museum di Indonesia tidak menjadi masalah.

Yang rumit justru adalah arca-arca yang masih berada di mancanegara. Tidak ada dokumentasi yang lengkap mengapa arca-arca tersebut bisa berada di sana. Dari beberapa literatur hanya diketahui beberapa kasus, misalnya terhadap arca-arca kuno yang kini berada di Thailand.

Arca-arca tersebut merupakan hadiah dari pemerintah Hindia Belanda kepada Raja Siam ketika berkunjung ke tanah Jawa pada abad XIX. Yang tercatat antara lain beberapa potong arca dari Candi Borobudur dan candi-candi lain di Jawa. Koleksi-koleksi tersebut kini disimpan di Istana Kerajaan Grand Palace.

Sejumlah arca batu juga masih berada di Jepang. Arca-arca itu merupakan jarahan tentara Jepang dari sejumlah candi untuk diberikan kepada kaisar mereka, Tenno Heika, ketika berulang tahun.

Yang sulit dilacak adalah arca-arca yang dimiliki oleh perseorangan. Karena bisa dipastikan arca-arca tersebut merupakan barang curian dari berbagai situs di Indonesia, tentu ada keengganan dari para kolektor untuk menginformasikannya secara terang-terangan.

Tidak dimungkiri, banyak arca kuno milik kita masih berada di mancanegara. Sekarang tinggal niat kita saja, apakah ingin dibiarkan tetap berada di sana, ataukah dikembalikan ke sini? Kalau dikembalikan ke sini, apakah kita siap menyediakan tempat penampungannya? (DJULIANTO SUSANTIO)

Kamis, 07 Januari 2010

Aksobhya yang Gagal Dilelang


Arca Buddha yang akan dilelang di New York, AS, akhir Maret 2005 lalu, masih menjadi kontroversi soal keasliannya hingga kini. Pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menganggap arca Buddha tersebut merupakan barang curian dari Candi Borobudur. Dengan demikian memberi kesan arca tersebut adalah barang asli.

Sebaliknya para perajin patung batu di Kampung Prumpung, Muntilan, menilai arca tersebut adalah buatan perajin setempat. Hal ini terlihat dari pori-pori pada tubuh arca. Menurut mereka, sejak lama banyak kolektor barang antik dari dalam negeri dan mancanegara memang memesan arca Buddha sejenis dari para perajin. Kemudian dengan berbagai proses buatan, arca tersebut “disulap” menjadi “benda kuno” sekaligus benda seni bernilai tinggi.

Di tangan pembuatnya arca itu diketahui hanya berharga jutaan rupiah. Namun di Balai Lelang Christie’s dipasang harga pembukaan 2,8 milyar rupiah. Tidak tertutup kemungkinan akan mencapai 5 milyar rupiah bahkan lebih seandainya lelang berjalan mulus.

Melihat foto saja memang agak sulit menentukan apakah arca Buddha tersebut “barang asli” atau “barang tiruan/palsu”. Namun sebenarnya asli atau tiruan bisa dikaji lebih dalam oleh seorang arkeolog yang mendalami ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno).

Seniman-seniman zaman dulu biasanya mendasarkan kreasinya kepada kitab-kitab kuno dari India. Kitab tersebut memuat patokan-patokan ikonometri tertentu tentang skala atau perbandingan bagian-bagian badan arca. Biasanya disebut dengan satuan tala. Misalnya jarak antar mata harus sekian tala. Begitu pula jarak mata ke hidung, hidung ke mulut, mulut ke dagu, dsb.

Umumnya arca-arca batu yang terdapat pada candi, benar-benar mengikuti aturan kitab kuno. Nah, jika ada pembuatan arca yang menyimpang dari aturan baku, tidak pelak lagi merupakan barang palsu.


Aksobhya

Ditilik dari atribut atau ciri-ciri arca diketahui arca Buddha yang akan dilelang itu adalah Aksobhya. Ciri utama Aksobhya adalah mempunyai mudra (sikap tangan) bhumisparsa, yaitu sikap tangan memanggil bumi. Sikap demikian menunjukkan Aksobhya adalah saksi sewaktu Sang Buddha digoda oleh Mara di bawah pohon bodhi. Aksobhya adalah penguasa Timur.

Dalam agama Buddha aliran Mahayana dikenal adanya lima dhyanni-Buddha. Masing-masing menguasai empat arah mata angin pokok ditambah satu di zenith (pusat). Selain Aksobhya, keempat dhyanni-Buddha itu adalah Wairocana (penguasa zenith, mudra-nya dharmacakra, yaitu sikap tangan memutar roda dharma), Amoghasidhi (penguasa Utara, mudra-nya abhaya, yaitu sikap tangan menenteramkan), Amitabha (penguasa Barat, mudra-nya dhyana, yaitu sikap tangan bersemedi), dan Ratnasambhawa (penguasa Selatan, mudra-nya wara, yaitu sikap tangan memberi anugerah). Amitabha adalah Buddha pada dunia yang sekarang, sementara Ratnasambhawa, adalah Buddha yang akan datang. Ketiga lainnya--Wairocana, Aksobhya, dan Amoghasidhi--adalah Buddha yang telah lalu.

Umumnya penggambaran arca Buddha sangat sederhana, tanpa hiasan, hanya memakai jubah tipis. Ciri-ciri lainnya adalah rambutnya selalu keriting, di atas kepala ada tonjolan seperti sanggul (usnisa), dan di antara keningnya ada semacam jerawat (urna).

Candi yang terbanyak memiliki arca dhyanni-Buddha adalah Borobudur. Banyaknya 504 buah yang terdapat pada tingkat arupadhatu. Sayang, lebih dari 300 di antaranya telah cacad atau tanpa kepala. Yang tragis, 43 buah telah hilang sebelum dilaksanakan purna pugar tahun 1970-an. Mungkinkah Aksobhya yang gagal dilelang itu pernah menjadi bagian dari Candi Borobudur, tentu masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pada dasarnya seni pahat patung kuno di Indonesia terbagi atas dua gaya, yakni kelompok Jawa Tengah dan kelompok Jawa Timur. Seni pahat Jawa Tengah lebih naturalistis dan dinamis, sementara seni pahat Jawa Timur agak kaku dan terikat pada soal-soal kependetaan (R. Soekmono, 1971).

Namun bukan berarti gaya Jawa Tengah lebih tinggi langgam seninya daripada gaya Jawa Timur. Arca Prajnaparamita yang pernah bertahun-tahun bermukim di Belanda merupakan peninggalan dari Candi Singasari, Jawa Timur, yang dianggap memiliki langgam seni amat indah. Jauh melebihi gaya Jawa Tengah.


Benda Seni

Sebagai benda seni, arca termasuk barang yang banyak diburu kolektor. Statistik menunjukkan arca kuno, termasuk relief candi dan ornamen-ornamen candi lainnya, merupakan peninggalan masa lampau yang paling sering hilang. Modus yang umumnya dilakukan pencuri adalah menggotongnya langsung dari situs candi, terlebih untuk arca lepas. Untuk arca yang menempel pada relung candi, biasanya menggunakan pahat dan dicongkel. Bahkan ada yang dipotong atau digergaji dengan alat modern.

Pencurian arca relatif mudah dilakukan karena lokasi situs berada di ruang terbuka dan jauh dari permukiman penduduk. Banyak situs arkeologi, misalnya, terletak di atas bukit, di tengah hutan, bahkan di lereng gunung. Di pihak lain, tenaga pengawas sangat minim karena alasan klasik: ketiadaan dana.

Pelaku utama biasanya penduduk desa yang masih lugu karena diiming-imingi uang banyak oleh para penadah. Para penadah kemudian menjualnya kepada calo barang antik yang menjualnya lagi langsung kepada orang asing atau kolekdol (kolektor yang merangkap pedagang).

Sebenarnya modus dan pendistribusian benda-benda kuno curian sudah terbaca oleh pihak berwenang. Namun entah mengapa pencurian terus saja terjadi setiap tahun. Mudah-mudahan kasus arca Aksobhya itu akan membuka mata kita terhadap kepurbakalaan dan bisnis barang antik. (DJULIANTO SUSANTIO)



Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Kontak