Pengumuman


Blog ini tidak diperbarui atau posting artikel lagi. Selanjutnya silakan kunjungi hurahura.wordpress.com
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Januari 2010

Bangunan Kuno Aceh, Selamat Berkat Kearifan


Bencana tsunami dan gempa bumi di Aceh banyak memakan korban jiwa dan harta benda. Namun banyak pula yang selamat, di antaranya sejumlah bangunan bersejarah.

Salah satu bangunan itu adalah Masjid Baiturrahman, masjid terbesar dan tertua di Aceh. Malah ketika terjadi bencana tsunami, banyak penduduk berlindung di atas tembok Baiturrahman. Baiturrahman merupakan peninggalan monumental Sultan Iskandar Muda. Sepanjang sejarahnya masjid ini sering didatangi petinggi-petinggi negara, seperti B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Sultan Brunei Hasanal Bolkiah, dan mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad.

Kekokohan Masjid Baiturahman sering kali dihubungkan dengan mitos sebagai tempat suci yang dilindungi Allah. Memang ada benarnya, meskipun dapat pula dilihat dari sudut pandang lain.


Kearifan

Kearifan bangunan, itulah sudut pandang dari segi arkeologi. Masyarakat dulu kala sangat percaya akan filosofi adanya tiga alam dalam jagat raya, yakni alam bawah, alam tengah, dan alam atas. Alam bawah disimbolkan dengan kaki bangunan, alam tengah dengan badan bangunan, dan alam atas dengan atap bangunan. Untuk bisa cepat menuju alam atas, maka alam bawah harus tinggi letaknya.

Karena itu Masjid Baiturrahman memiliki kaki yang tinggi, dalam bentuk undak atau anak tangga. Bahkan memiliki sejumlah pintu semu, semacam kusen tanpa dilengkapi daun pintu dan pilar penyangga. Konstruksi seperti itulah yang menyebabkan sebagian air yang menerjang, terpecah oleh pintu semu dan pilar. Dengan demikian tenaga yang dihasilkan terjangan air tidak besar.

Rumah tua peninggalan pahlawan Aceh Cut Nyak Dien juga selamat meskipun halamannya dipenuhi genangan lumpur, serakan sampah, dan mayat-mayat kiriman. Padahal letak rumah tersebut sekitar dua kilometer dari tepi pantai.

Rumah Cut Nyak Dien bisa luput karena untuk memasuki rumah tersebut, kita harus menaiki tangga sekitar tiga meter. Sekali lagi, filosofi tiga alam yang menjadikan rumah itu terhindar dari maut.

Peninggalan bersejarah lain yang masih berdiri kokoh adalah Benteng Indrapatra. Benteng ini terbuat dari batu besar dan memiliki dinding setebal 50 cm. Di dinding depan yang menghadap ke pantai, terdapat sejumlah lubang kecil. Dulunya lubang ini dipakai sebagai tempat meletakkan senjata saat berperang (Koran Tempo, 6 Februari 2005).

Meskipun benteng ini terletak di bibir pantai, namun tak satu pun bagian benteng yang rusak. Tsunami hanya meninggalkan endapan lumpur yang cukup tinggi. Lubang-lubang kecil tempat meletakkan senjata itulah yang dipandang merupakan “dewa penyelamat”.

Berbagai peninggalan masa lampau juga selamat karena kearifan lingkungan. Banyak bangunan kuno dibangun di dekat sungai. Ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat masa lampau bahwa sungai atau air merupakan benda suci karena merupakan pelengkap penting dalam upacara keagamaan. Ketika terjadi gelombang tsunami, air yang menuju sejumlah bangunan kuno terpecahkan oleh sungai sehingga airnya berbelok arah. Karena relatif aman banyak penduduk mengungsi atau menyelamatkan diri ke situs-situs bersejarah tersebut.


Tsunami

Memang beberapa bangunan bersejarah dan makam-makam kuno dari periode Islam dan Belanda, sempat diterjang tsunami. Namun kerusakannya tidak begitu parah. Kemungkinan besar bangunan-bangunan itu masih bisa dipugar kembali, sehingga geliat wisata Aceh kembali pulih. Yang parah justru peninggalan-peninggalan masa lampau, termasuk naskah-naskah kuno, yang tersimpan di dalam museum dan perpustakaan.

Bangunan-bangunan kuno, terutama kompleks makam kuno, merupakan aset wisata yang paling diandalkan di Aceh. Apalagi setiap tahunnya ratusan ribu peziarah mengunjungi situs-situs bersejarah ini, terutama makam kuno Teungku Syiah Kuala. Bahkan boleh dikatakan makam Teungku Syiah Kuala sudah begitu melegenda, sehingga banyak dikunjungi peziarah sejak abad XIX sebagaimana laporan Snouck Hurgronye.

Menghargai masa lampau sekaligus menjaganya, paling tidak menjadi modal dasar untuk mengenang kebesaran Aceh. Meskipun banyak sumber sejarah Aceh yang tersimpan di museum dan perpustakaan rusak berat karena tsunami, kita masih beruntung karena banyak naskah tentang Aceh masih tersimpan di berbagai negara Eropa, antara lain di Perpustakaan India Office, Perpustakaan Universitas Leiden, Perpustakaan Royal Asiatic Society, Perpustakaan King’s College, dan Perpustakaan School of Oriental and African Studies. Dari naskah-naskah inilah kita berharap dapat menjadi acuan untuk membangun kembali Aceh sebagai kota dagang dan kota pelabuhan yang terkenal seperti pada masa abad XVI-XVII. (DJULIANTO SUSANTIO)

Jumat, 08 Januari 2010

Tsunami dan Dokumen Sejarah Aceh


Ingat Aceh, tentu ingat bencana tsunami yang melanda daerah itu 26 Desember 2004 lalu. Lebih dari 100.000 orang dipastikan meninggal. Tak terhitung harta benda rusak karena gelombang laut mahadahsyat itu. Tidak ada yang menduga bahwa bencana tsunami yang terjadi akan separah itu karena sebelumnya tidak ada firasat atau tanda tertentu.

Padahal sebenarnya tanda-tanda bahaya telah tertulis sejak lama. Hanya kita belum menyadari tanda-tanda itu. Jika dikaji, sejumlah dokumen sejarah dari abad XVI hingga XVIII berulang kali pernah menyebutkan Aceh (bersama Nias) sebagai “Kota Bencana”. Salah satu sumber, misalnya, menyatakan setiap tahun banjir besar, air laut pasang, dan gempa bumi silih-berganti melanda Aceh. Akibatnya, para pedagang dan pengelana asing yang pernah mengunjungi Aceh saat itu, sering menjuluki Aceh sebagai “kota mati” atau “kota yang menyeramkan”.

Disebutkan pula, bencana banjir sering dalam satu kali menghancurkan satu kampung sekaligus. Meskipun rumah-rumah penduduk dibangun di atas tiang setinggi 1,20 meter hingga 1,80 meter, selalu ada sejumlah rumah yang hanyut terseret air. Ini karena rumah-rumah di sana sedikit sekali yang terbuat dari batu. Umumnya rumah-rumah penduduk berbahan alang-alang dan bambu.

Betapa parahnya bencana itu bisa dicermati dari laporan selanjutnya, “Karena pasang purnama dan sungai hampir setiap tahun menggenangi kota, maka orang terpaksa naik perahu dari rumah yang satu ke rumah yang lainnya” (Denys Lombard, Kerajaan Aceh, hal. 61).

Selain itu, malapetaka kebakaran sering menghancurkan berbagai rumah di Aceh. Begitu pun gempa bumi. Malah gempa bumi yang terjadi sebelum matahari terbit pada 7 Maret 1621, kekuatannya begitu besar. Mereka yang berada di dalam rumah merasakan seakan-akan atap rumah roboh menimpa mereka. “Sekurangnya setiap tahun terjadi tiga-empat gempa di sana,” begitu Lombard menuliskan (hal. 63).

Banyaknya bencana di Sumatera, terlebih di Aceh, juga pernah dilaporkan William Marsden dalam bukunya Sejarah Sumatra. Kala itu, menurut Marsden, di Sumatera terdapat sejumlah gunung berapi yang sering mengeluarkan lava sehingga menyebabkan hutan terbakar. Bahkan letusan-letusan gunung berapi itu mempunyai hubungan dengan gempa bumi yang sering terjadi di sana.

Gempa bumi yang paling keras dirasakan sendiri oleh Marsden pada 1770 dan terjadi di daerah Manna. Sebuah kampung dikabarkan musnah. Selain itu banyak rumah runtuh dan habis dimakan api, bahkan beberapa orang tewas. Sebelumnya, pada 1763 Marsden mendapat kabar bahwa seluruh penduduk yang tinggal pada satu kampung meninggal akibat gempa bumi di Nias.

Rupanya gempa yang terjadi pada abad XVIII itu relatif besar karena menurut Marsden seusai gempa terjadi retakan tanah sepanjang seperempat mil dan banyak bagian bukit longsor karenanya. Sering kali gempa diiringi gelombang laut yang besar sehingga goncangannya dirasakan kapal-kapal besar yang membuang jangkar di bandar (hal. 23).

Selain gempa bumi, Sumatera khususnya Aceh, sering dilanda surf, yakni alunan ombak tinggi dan pecah di pantai. Tinggi surf mencapai 15-20 kaki, lalu puncaknya menggantung dan kemudian seluruhnya jatuh seperti air terjun, hampir tegak lurus melebur dirinya. Deru yang diakibatkan oleh hempasan itu sangat keras sehingga dapat terdengar bermil-mil di daratan dalam kesunyian malam.

Gelombang surf mungkin serupa dengan gelombang tsunami. Apalagi, menurut Marsden, tenaga surf sangat kuat. Hal ini terlihat dari sebuah perahu yang terjungkir sehingga puncak tiang layarnya menancap di pasir dan pangkalnya menembus dasar perahu (hal. 25).

Sementara itu, laporan pengelana Barat lainnya menyatakan, negeri Aceh tidak terlalu baik dari segi geografis. Bahkan negerinya sering diporak-porandakan oleh alam. Sayang, kita tidak memahami peringatan-peringatan dini dari abad lampau itu, sehingga kita tidak siaga menghadapi tsunami. Mudah-mudahan hal ini membuka kearifan kita bahwa dokumen-dokumen kuno masih bermanfaat.


Cemerlang

Meskipun sering dilanda bencana, Aceh pernah menjadi kerajaan yang cemerlang di masa lampau. Aceh mulai disebut-sebut pedagang dan pengelana asing sejak abad XVI. Kemungkinan besar penyebutan pertama terdapat dalam buku Suma Oriental karya Tome Pires (1520). Pengelana bangsa Portugis itu menyebutnya Achei (Achey), bahkan sering kali regno dachei (=kerajaan Aceh).

Pires memberitakan bahwa Raja Aceh gemar berperang. Raja itu beragama Islam dan gagah perkasa. Dalam perang, dia telah menyebabkan banyak kerusakan pada pihak musuh. Banyak pulau di dekatnya, juga dikuasai raja itu.

Namun Barros, meskipun juga orang Portugis, menulis Aceh dengan ejaan lain, yakni Achem, Achin, dan Atchin. Sedangkan naskah Cina Tong-hsi-yang-kao (1618) dan Shun-feng-hsiang-song (abad XVII) menyebutnya A-tsi, mungkin identik dengan Acih.

Nama Aceh mulai dikenal luas pada abad ke-19 setelah Snouck Hurgronye, seorang Belanda ahli agama dan kebudayaan Islam, menulis buku De Atjehers (Orang-orang Atjeh). Cara menulis seperti itulah yang kemudian dipakai dalam teks-teks resmi. Nama Aceh sendiri, menurut tradisi Melayu, diambil dari sejenis pohon yang dinamakan Achi.

Karena terletak di tepi pantai, Aceh banyak didatangi bangsa asing dengan berbagai maksud. Ada yang berdagang, menyampaikan upeti, hingga menyebarkan agama Islam. Sebuah naskah Cina dari masa 1573-1620 memberitakan, Aceh banyak mengekspor batu mulia, nila, kuda, badak, batu ambar, kayu gaharu, kayu kalambak, kayu pucuk, cengkeh, dupa, keris, busur, timah, lada, kayu sapan, dan belerang.

Aceh sebagai bandar yang ramai dan kota perdagangan memang banyak disebutkan sumber Barat. Ini karena pelabuhan Aceh dinilai strategis dan lokasinya tidak jauh dari Selat Malaka. Ramainya perdagangan Aceh diperlihatkan oleh begitu banyaknya temuan-temuan arkeologis di sana.

Mulai abad ke-19 Aceh mendapat julukan baru, yakni sebagai “Kota Penelitian”. Banyak peneliti Barat melakukan studi di Aceh. Yang terbanyak adalah di bidang sejarah, filologi, dan arkeologi.

Dari beberapa penelitian itu, ada beberapa yang dianggap fenomenal. Misalnya penelitian yang dilakukan J.P. Moquette, terhadap tulisan pada makam-makam Islam kuno. Dia menyimpulkan dua hal penting, yakni Sultan Malik as-Salih adalah pendiri kerajaan Islam (Samudra Pasai) yang pertama di Indonesia dan para pedagang Muslim yang berasal dari Gujarat (India) merupakan penyebar agama Islam yang pertama di Indonesia. Keduanya terjadi pada abad XII (Uka Tjandrasasmita, “Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia”). Pendapat Moquette itu masih diterima para sejarawan dan arkeolog hingga kini.

Tragisnya, banyak sekali warisan kebesaran Samudra Pasai diluluhlantakkan tsunami. Akibatnya, hampir tidak ada lagi sisa-sisanya yang dapat disaksikan anak cucu kita. Untungnya, sejumlah manuskrip kuno dan benda arkeologi pernah “dibawa kabur” ke mancanegara pada zaman Hindia Belanda. Jadi, hanya artefak-artefak di Belanda, Inggris, dan Prancis itulah saksi bisu bukti kebesaran Aceh.

Masalah kita sekarang tentu adalah bagaimana upaya rekonstruksi Aceh. Bukan hanya rekonstruksi fisik, tetapi juga rekonstruksi bangunan dan peninggalan sejarah yang rusak bahkan musnah diterjang tsunami. Ini agar kebesaran Aceh tampak kembali, sekaligus menunjukkan potret buram bencana bersama keagungan sejarah. (DJULIANTO SUSANTIO)

Dulu, Aceh Surga Penelitian

Menurut dokumen-dokumen sejarah, Aceh pernah menjadi kerajaan yang cemerlang di masa lampau. Aceh mulai disebut-sebut pedagang dan pengelana asing sejak abad XVI. Bangsa-bangsa asing yang sering datang ke Aceh adalah Portugis, Belanda, Inggris, Italia, Prancis, China, Arab, dan India.

Namun asal mula kerajaan Aceh sampai kini masih terselubung. Cerita mitos mengatakan orang-orang Aceh adalah keturunan Ismael dan Hagar dari seberang laut. Menurut Snouck Hurgronye, orang Aceh lahir dari percampuran orang Arab, Parsi, dan Turki.

Sejarah Melayu menceritakan seorang raja dari Campa, Syah Pu Liang (atau Ling) diusir dari ibukotanya oleh bangsa Vietnam sekitar 1471. Kemudian dia mencari perlindungan di Aceh dan membentuk wangsa baru.

Hikayat Aceh yang isinya lebih bersifat dongeng mengisahkan bahwa Aceh muncul karena bersatunya dua wilayah permukiman Makota Alam dan Dar ul-Kamal (Denys Lombard, Kerajaan Aceh).

Menurut tradisi, pendiri Aceh adalah Ali Mughayat Syah (Ali Mugayat Sah). Beliau sering diceritakan kronik-kronik Aceh. Bilamana beliau naik takhta belum diketahui pasti. Hanya dalam penemuan nisan makamnya, diketahui beliau wafat pada 7 Agustus 1530.

Pada awal abad XVI Aceh sudah maju. Menurut penjelajah Eropa, di sana tidak ada tembok benteng seperti di Eropa dan India. Yang ada hanyalah lapangan yang menyulitkan orang untuk mendarat dan masuk. Ini menjadikannya semacam pertahanan alamiah.

Pada masa itu kekuasaan Aceh demikian besar karena banyak negara tetangga tunduk kepadanya. Disebutkan pula, tentara Aceh gesit dalam berperang. Kendaraan tempurnya yang paling diandalkan adalah pasukan gajah-gajah terlatih.

Kota Aceh sangat luas. Keliling Aceh, kata Nicolaus de Graaff (penjelajah Belanda), kira-kira 2 mil. Mil adalah ukuran yang biasa dipakai di Jerman dan Belanda (1 mil = 7408 meter). Jadi keliling Aceh kira-kira 15 kilometer. Sementara banyaknya rumah, kata William Dampier (penjelajah Inggris), antara 7 ribu hingga 8 ribu.

Raja Aceh yang terkenal adalah Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Sultan ini banyak membangun masjid. Dampier melaporkan bahwa masjid-masjid di Aceh berciri khusus, sangat berbeda daripada yang dilihatnya di Timur Tengah dan Turki.

Pada abad XVII Aceh pernah memiliki seorang ulama besar Abd ur-Rauf dari Singkel. Dia menulis sebuah karya agung Umdat al-Muhtajin. Setelah meninggal, dia mendapat nama anumerta Teungku di Kuala atau Teungku Syiah Kuala, karena makamnya terletak dekat Sungai Aceh. Sekarang nama Syiah Kuala diabadikan sebagai nama perguruan tinggi terbesar di Aceh.


Penelitian

Valentijn mungkin merupakan orang pertama yang menaruh perhatian khusus pada sejarah Aceh. Namun yang banyak membahas tentang Aceh adalah William Marsden. Marsden kemudian membawa beberapa naskah Aceh ke Eropa sebagai acuan bukunya, History of Sumatra. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Sumatra (1999). Sesudah itu muncul beberapa nama penulis Eropa lain, seperti E. Jacquet, Ed. Dulaurier, T. Braddell, J. Anderson, H.C. Millies, dan van Langen.

Selain kronik Aceh, para peneliti Barat banyak memakai kronik Melayu sebagai referensi. Namun isi kronik Melayu lebih mirip dongeng daripada fakta. Salah satu kronik Melayu yang dipandang benar-benar bisa diandalkan sebagai sumber informasi sejarah adalah Bustan us-Salatin, karya Nuruddin ar-Raniri. Karya Raniri dianggap sebagai monografi lengkap tentang agama dan sejarah Aceh.

Selain penelitian sejarah dan filologi, para sarjana Barat juga melakukan penelitian arkeologi di sana. Kegiatan itu mulai dilaksanakan pada 1884 oleh J.P. Moquette, van Ronkel, dan sejumlah pakar lain. Objek yang diteliti umumnya adalah masjid, nisan kuno berinskripsi, bangunan arkeologi Islam lain, dan bangunan dari masa kolonial.

Di masa penjajahan, Aceh termasuk salah satu daerah yang tidak mau tunduk kepada Belanda. Sulit sekali bagi Belanda untuk menjinakkan Tanah Rencong. Dengan pahlawan-pahlawan besar seperti Teuku Umar dan Tjut Nyak Dien, maka Perang Aceh tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu pertempuran paling lama. Perang Aceh berlangsung pada1873-1904.

Sebagai kota yang pernah berperan besar dalam sejarah, banyak peninggalan masa lampau tersebar di seluruh Aceh, berupa peninggalan tertulis dan peninggalan tak tertulis. Sebagian peninggalan tertulis berupa dokumen dan naskah kuno, banyak diboyongi ke Eropa. Saat ini sumber-sumber tersebut tersimpan di Belanda, Inggris, dan Prancis.

Sedangkan peninggalan tak tertulis berupa benda-benda arkeologi, sebagian di antaranya telah rusak diterjang tsunami akhir 2004 lalu. Sebagian lagi, seperti halnya peninggalan tertulis, masih berada di Eropa.

Dulu, Aceh menjadi surga penelitian. Mengingat masa lampaunya pernah cemerlang, sementara banyak sisa peninggalan kunonya rusak, mudah-mudahan rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh juga menyangkut warisan budayanya. (DJULIANTO SUSANTIO)



Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Kontak