Pengumuman


Blog ini tidak diperbarui atau posting artikel lagi. Selanjutnya silakan kunjungi hurahura.wordpress.com
Tampilkan postingan dengan label Artefak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artefak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2010

Zaman Dulu: Perahu, Kendaraan Roh ke Dunia Arwah


Penemuan perahu kuno buatan abad ke-17 di Sungai Bengawan Solo baru-baru ini (SH, 8/10) setidaknya memberi gambaran bahwa sejak lama Indonesia merupakan salah satu “negara perahu” tersohor. Menurut data sejarah, sejak ribuan tahun yang lalu memang nenek moyang kita sudah berprofesi sebagai pelaut. Mereka dengan gagah berani mengarungi samudera luas. Bukan hanya di wilayah Indonesia, tetapi sudah menyeberang ke Asia Tenggara, Pasifik, bahkan jauh sekali hingga Madagaskar di benua Afrika. Mereka berlayar untuk berbagai keperluan, terutama berdagang dalam taraf yang paling primitif.

Kemungkinan besar perahu nenek moyang kita yang paling awal terbuat dari bambu. Di Indonesia bambu sangat mudah diperoleh karena bambu dapat tumbuh di mana-mana, baik di daerah berhawa sejuk maupun daerah berudara panas.

Dengan merangkaikan bambu-bambu itu, kemudian diikat dengan tali, maka jadilah perahu yang amat sederhana. Pada masa sekarang perahu demikian biasa disebut rakit atau getek. Bentuknya polos, tanpa kemudi dan tanpa layar. Oleh karena itu rakit hanya efektif untuk pelayaran jalur pendek lewat sungai.

Mungkin juga perahu pertama terbuat dari beberapa batang pohon pisang (gedebong) yang digabung menjadi satu. Bambu dan gedebong merupakan bahan yang ringan dan mudah mengambang di air. Rakit dari kedua bahan itu masih digunakan oleh penduduk daerah pedalaman yang terisolasi jalan darat sampai sekarang.

Sesuai dengan kondisi geografis, di tempat lain perahu paling awal diduga terbuat dari sebatang pohon besar yang bagian tengahnya dilubangi, mirip lesung atau sampan. Perahu seperti inilah yang paling populer sebagaimana terlihat pada lukisan-lukisan goa prasejarah, yakni masa sebelum dikenalnya sumber tertulis, di Sulawesi dan Papua.

Bentuk sampan kemudian berkembang. Sebagai pengganti tenaga manusia untuk mendayung, digunakan layar yang menggunakan tenaga angin. Bentuk layar yang umum dikenal adalah segitiga dan segiempat. Bahan dasar pembuatan layar mungkin sejenis tikar pandan, tumbuh-tumbuhan yang dianyam, kulit kayu, atau kulit binatang yang disambung-sambung.


Relief

Bukti adanya perahu yang lebih bagus diperlihatkan oleh sejumlah relief Candi Borobudur. Ditafsirkan, sebelum abad ke-9 nenek moyang kita telah mengenal sekurang-kurangnya tiga jenis perahu, yakni perahu lesung, perahu besar yang tidak bercadik, dan perahu bercadik.

Perahu tertua dan perlengkapannya pernah ditemukan di situs kerajaan Sriwijaya bertarikh abad VII-XIV. Itulah perahu kayu yang dianggap tertua hingga kini.

Sebagai negara yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan kebudayaan, di Indonesia banyak sekali terdapat jenis perahu sesuai tradisi lokal. Apalagi negara kita disebut negara kepulauan dan negara bahari yang 70 persen dari bagiannya berupa perairan. Beberapa jenis perahu yang dikenal di Indonesia umumya populer di daerah pesisir pantai, antara lain sampan, biduk, bidar, kora-kora, klotok, ketingting, pancalang, lancang, kalulus, bahtera, tongkang, janggolan, jung, palari, sandek, paduakang, orembai, rorehe, sope, balaso-e, eretan, kano, dan sekoci. Perahu-perahu itu ada yang polos, ada yang berwarna-warni dipenuhi hiasan atau ukiran. Fungsinya pun bermacam-macam, seperti untuk membawa hasil tangkapan, membawa barang dagangan, olahraga, transportasi, pesiar, menjaga keamanan, dan berperang.

Di Indonesia pernah ditemukan perahu yang tergolong unik. Zaman dulu pada perahu perang, dayung bisa difungsikan sebagai tombak. Tentu setelah dibuat sedemikian rupa terlebih dulu sehingga mudah dipegang dan dilemparkan ke arah musuh.

Umumnya bentuk perahu yang berlayar di sungai berbeda dengan perahu untuk transportasi laut. Perahu sungai berbentuk lebih kecil daripada perahu untuk di laut. Ini karena air sungai relatif tenang, sementara air laut sering dipenuhi gelombang.

Pada masa kemudian jumlah layar terus bertambah, disesuaikan dengan besar perahu. Jadi tidak hanya satu, melainkan sampai banyak berlapis-lapis menggunakan tiang tinggi. Karena teknologi terus berkembang maka perahu juga dibuat dari bahan-bahan yang lebih kuat, seperti fiberglass, ferrocement, dan logam. Sebagai daya penggerak digunakan motor atau mesin tempel yang mengandalkan baling-baling sebagai kemudi, untuk menggantikan peran dayung dan layar. Ini disebut kapal motor. Kapal motor yang sangat cepat jalannya, disebut speedboat. Biasanya untuk berlomba macam Formula 1 di olahraga otomotif.

Ada lagi yang disebut perahu karet. Perahu modern ini biasanya digunakan untuk olahraga arum jeram dan untuk menolong penduduk yang terkena musibah banjir.

Perahu yang berukuran sangat besar sering disebut kapal air atau kapal laut. Karena menggunakan bahan bakar batubara, ada yang disebut kapal api. Berjenis-jenis kapal yang dikenal, antara lain kapal kargo, kapal tunda, kapal tanker, kapal pesiar, kapal perang (bahkan yang disebut kapal induk amat sangat besar), kapal penangkap ikan, dan kapal penumpang.

Ada pula yang disebut kapal selam. Kapal ini agak unik karena jalannya tidak mengapung di atas air, tetapi menenggelamkan diri. Maklum kapal jenis ini adalah kapal perang. Jadi supaya tidak terlacak musuh, ya harus sembunyi-sembunyi jalannya.


Prasejarah

Pada zaman prasejarah perahu banyak dipuja oleh berbagai suku bangsa. Mereka yang bertempat tinggal dekat air, misalnya di tepi sungai atau laut, menganggap perahu merupakan suatu benda yang sangat berarti dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut pakar prasejarah Prof. R.P. Soejono, dulu pun timbul kepercayaan bahwa bila manusia meninggal, arwahnya akan diantar oleh perahu ke suatu pulau di seberang lautan. Di sanalah nantinya arwah akan bertempat tinggal. Karena itu peti mayat bangsa pelaut tersebut dibuat menyerupai bentuk perahu. Sebuah perahu tiruan disertakan pada mayat yang dikubur dalam peti tersebut. Tradisi seperti ini dulu banyak dijumpai di kepulauan Tanimbar, Babar, Leti, suku Dayak Ngaju, Toraja, Sumba, dan Pulau Roti.

Perahu sebagai kendaraan roh ke dunia arwah itu dilukiskan pada masa paleometalik atau logam awal. Perahu juga banyak terdapat pada pola hias nekara, yaitu bejana besar terbuat dari logam perunggu.

Pada masa selanjutnya, pola hias perahu memengaruhi kain batik, kain tenun tradisional, dan ornamen peninggalan budaya lainnya. Dalam filosofi Islam, menurut Prof. Dr. Hasan M. Ambary, pakar arkeologi Islam, perahu diibaratkan kendaraan untuk menuju tempat yang abadi. Tidak heran bila seorang sastrawan Aceh terkenal pada masa dulu, Hamzah Fansuri, pernah menulis sebuah karya berjudul “Syair Perahu” yang begitu melegenda.

Berkat perahu, pengetahuan tentang kemaritiman semakin maju serta dunia semakin terbuka dan dekat, bahkan berperang. Sayangnya, koleksi-koleksi perahu kita hanya sedikit terdapat di Museum Bahari Jakarta dan Museum La Galigo Makasar. Mudah-mudahan nantinya koleksi museum-museum kita akan bertambah lengkap, sehingga kita bisa menyaksikan jenis-jenis perahu yang dibuat berbagai suku bangsa di Indonesia. Cukup berupa miniatur perahu, model, atau replikanya agar tidak memakan tempat.


Jenis-jenis Perahu

Perahu: Sarana pengangkutan di air. Sering kali tidak bergeladak. Bentuk dan peralatannya disesuaikan dengan kegunaannya. Wujudnya ruang persegi panjang. Berasal dari kata padao atau parao yang lazim terdapat di sekitar Malabar (India).

Jukung: Jenis perahu yang pembuatannya secara langsung dari satu pokok kayu utuh, misalnya kayu jati, kayu sukun, dan kayu nangka. Setiap daerah pesisir memiliki tradisi sendiri dalam pembuatan jukung. Ada jukung yang mempunyai cadik ganda, yakni di kanan kiri badan perahu. Ada pula yang hanya mempunyai cadik tunggal. Bahkan ada yang tidak mempunyai cadik. Sejumlah jukung dilengkapi layar. Fungsi utama jukung adalah membawa hasil tangkapan para nelayan. Sementara cadiknya berfungsi untuk menjaga keseimbangan.

Pinisi: Umumnya pinisi berbahan kayu jati. Perahu pinisi yang terkenal dibuat oleh Suku Bira di Sulawesi Selatan. Fungsi utama pinisi adalah untuk transportasi dan mengangkut barang dagangan. Karena panjangnya sekitar 35 meter, maka kemampuan daya angkutnya mencapai 200 ton. Perahu pinisi dilengkapi kemudi dan layar.

Lancang Kuning: Lancang berarti perahu. Jadi artinya perahu berwarna kuning. Dulu merupakan perahu kebesaran raja yang dipergunakan untuk pesiar atau meninjau keadaan daerah dan rakyatnya. Lancang Kuning yang terkenal berasal dari Bengkalis, Riau, dan Kalimantan Barat. Perahu itu mempunyai 14 dayung, masing-masing tujuh di kanan dan kiri. Dulu perahu Lancang Kuning begitu populer, sehingga dibuatkan lagu.

Alut Pasa: Alut artinya perahu dan pasa artinya lomba. Jadi alut pasa adalah perahu untuk berlomba. Berasal dari Kalimantan Timur. Sering digunakan oleh Suku Dayak Kenyah.

Lete: Dulu perahu lete banyak dipakai untuk mengangkut garam dari Madura ke seluruh Indonesia. Saat ini sering digunakan untuk mengangkut ternak, kayu, dan barang-barang dagangan lain.

Sampan: Perahu kecil dan ringan, terutama digunakan di sungai dan pelabuhan. Berasal dari kata China, berarti tiga papan. Umumnya mempunyai kabin beratap tikar. Banyak dipakai sebagai tempat tinggal. Mempunyai satu layar, dikayuh dengan satu atau lebih dayung.

Sekoci: Sampan dayung kecil yang ditempatkan di kapal. Digunakan untuk mengangkut penumpang atau barang ke darat dan sebaliknya. Juga digunakan sebagai sampan penyelamat dalam keadaan darurat di kapal. Misalnya jika terjadi kebakaran kapal, orang menyelamatkan diri menggunakan sekoci itu. (Sumber: Museum Bahari dan Ensiklopedia Indonesia)

Selasa, 12 Januari 2010

LAYANG-LAYANG: Permainan, Benda Magis, dan Benda Seni


Layang-layang sudah lama dikenal sebagai permainan tradisional anak-anak di seluruh Indonesia. Mainan ini mudah dibuat. Bahan dasarnya adalah kertas, potongan bambu kecil, dan lem. Untuk memainkannya, layang-layang diterbangkan ke angkasa dengan segulung benang gelasan yang bisa ditarik-ulur. Di angkasa layang-layang diadu. Siapa yang terlebih dulu memutuskan benang lawan, dialah pemenangnya.

Layang-layang mampu terbang berkat gaya-gaya aerodinamika dari gerakan relatifnya terhadap angin. Angin relatif itu ditimbulkan oleh aliran udara alamiah atau tarikan layang-layang lewat benang penghubung. Karena populernya, bentuk layang-layang menjadi salah satu bagian dari bangun datar ilmu matematika.

Layang-layang sering dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran. Yang umum dikenal memiliki panjang diagonal 20 cm - 40 cm. Namun dalam perkembangannya, bentuk layang-layang tidak selalu segiempat. Sesuai kreativitas seseorang, layang-layang juga dibuat berbentuk lingkaran, segienam, bahkan hewan dan sebagainya dilengkapi gambar dan warna yang semarak. Biasanya, layang-layang seperti itu merupakan daya tarik pariwisata atau benda cendera mata.

Sejak tahun 1970-an, bentuk layang-layang selalu dimodifikasi para seniman. Ukurannya pun tidak lagi kecil tetapi sangat besar, yakni dalam bilangan meter. Bahkan tidak jarang dibuat dalam bentuk tiga dimensi sehingga harus dimainkan oleh beberapa orang sekaligus menggunakan tali tambang sebagai pengganti benang.

Namun layang-layang demikian tidak diadu, dalam arti sampai memutuskan tali lawan. Layang-layang seperti itu biasanya dimainkan oleh orang-orang dewasa dan dilombakan dalam suatu festival. Di Indonesia lomba dan festival layang-layang bertaraf internasional sudah merupakan agenda tetap di Pangandaran dan Bali. Yang dinilai adalah bentuk, komposisi warna, keelokan gerak, bunyi gaungan, dan lama mengudara.


Magis

Uniknya, di berbagai daerah layang-layang dikenal sebagai benda magis religius. Di Bali, misalnya, masyarakat masih mengenal layang-layang untuk melindungi singgasana para dewa. Dewa Layang-layang di Bali adalah Rare Angon. Dewa itu selalu diberi sesaji dan disembah sebelum layang-layang diterbangkan. Layang-layang yang telah disucikan itu merupakan benda sakral dan disyaratkan tidak boleh menyentuh tanah. Bila hal itu tidak diindahkan, konon akan terjadi kemalangan.

Lain lagi di Sumatra Barat. Masyarakat masih percaya pada layang-layang bertuah yang bisa memikat anak gadis. Namanya layang-layang hias dangung-dangung.

Entah sejak kapan layang-layang dikenal di Indonesia. Belum ada sumber sejarah yang menyebutnya secara pasti. Beberapa rangkaian relief cerita pada candi sekilas hanya menampilkan layang-layang berupa bagian dari tumbuhan yang diterbangkan dengan seutas tali.

Tampaknya layang-layang merupakan peninggalan budaya yang bersifat universal. Benda ini juga dikenal oleh berbagai negara Asia.

Diduga kuat, layang-layang pertama kali diciptakan di China sebelum abad Masehi. Jadi usianya sudah lebih dari 2.000 tahun. Di sana layang-layang disebut “rajawali kertas”.

Kecuali sebagai permainan, pada abad pertengahan China pernah membuat layang-layang untuk tujuan militer, antara lain untuk mengintai musuh dan mengukur jarak keberadaan musuh. Di Korea, ritual menerbangkan layang-layang yang ditulisi nama dan tanggal lahir seorang bayi selalu dilaksanakan setiap tahun. Tradisi itu dimaksudkan agar si anak selamat sampai hari tua.


Jepang

Meskipun sudah tergolong negara maju, ternyata masyarakat dan pemerintah Jepang paling getol memopulerkan layang-layang. Di sana layang-layang bukan sekadar permainan, tetapi menjadi karya seni bermutu tinggi.

Sejak lama banyak sekolah di Jepang mengajarkan kerajinan layang-layang kepada para murid sebagai bagian dari ekstrakurikuler mereka. Karena itu era layang-layang mengalami kebangkitan. Tidak heran setiap tahun layang-layang dibuat dalam desain yang baru dan orisinal meskipun dengan dasar-dasar motif tradisional.

Langkah inovatif lainnya adalah melestarikan seniman pembuat layang-layang tradisional, yakni dengan memberikan subsidi dan tunjangan kepada mereka. Sampai kini terlihat dampak positifnya bahwa permainan dan kerajinan membuat layang-layang tak pernah (akan) mati.

Di Jepang layang-layang mulai dikenal pada zaman Heian (794-1185). Pada masa itu layang-layang sering digunakan sebagai alat komunikasi pembawa pesan rahasia di istana. Karena harus melewati parit-parit besar, maka layang-layang dinilai mampu menjalankan misi itu. Masa keemasan pembuatan layang-layang terjadi pada zaman Edo (1630-1868). Namun waktu itu karena harga kertas sangat mahal, hanya kalangan bangsawan yang mampu menerbangkan layang-layang.

Berkembangnya seni cetak cukilan kayu dan penggunaan warna dalam seni cetak tradisional Jepang, membawa perubahan baru pada layang-layang. Teknik-teknik seni itu mulai diterapkan pada layang-layang sehingga warna-warna yang dihasilkan sangat indah.

Setiap 5 Mei permainan layang-layang di Jepang menjadi acara tahunan yang semarak sebagai festival anak laki-laki. Pada hari itu para orang tua beramai-ramai menuliskan nama bayi mereka pada layang-layang yang dihiasi gambar prajurit legendaris atau pahlawan dalam cerita anak-anak. Hal itu dimaksudkan agar anaknya tumbuh sehat dan kuat. Motif lain yang disukai adalah kura-kura dan burung bangau (lambang panjang umur) dan ikan gurame (lambang keuletan). Semakin tinggi layang-layang terbang, konon nasib seseorang semakin baik.

Menurut penilaian para pakar pariwisata, festival 5 Mei merupakan pesta layang-layang terbesar di dunia. Lebih dari seribu layang-layang berpartisipasi selama tiga hari penyelenggaraan. Sekitar lima juta pengunjung tercatat menyaksikan festival tersebut, termasuk wisatawan mancanegara.

Meskipun kini tanah lapang di Jepang semakin sempit, bahkan anak-anak keranjingan berbagai jenis games modern, ternyata permainan tradisional layang-layang masih tetap hidup.

Di Indonesia, kecuali seniman-seniman Bali, jarang sekali yang mau menekuni seni membuat layang-layang. Padahal, Indonesia memiliki aneka ragam budaya yang memesona, jauh lebih banyak daripada budaya di Jepang. Ya, kita memang selalu mengabaikan warisan budaya masa lalu. Mungkin kita akan menyesal di kemudian hari karena tidak melestarikan layang-layang.


Alat Bantu Ilmu Pengetahuan

Selain di Asia, layang-layang juga sudah merambah Eropa. Di sana model layang-layang selalu dikembangkan. Karena bahan kertas dan plastik dianggap kurang kuat, mereka membuat layang-layang dari bahan fibreglass. Bahan ini memang cukup ringan dan kuat. Bentuknya pun dipermodern, seperti bentuk geometris lengkap dengan gambar-gambar memikat. Selain itu mereka membuat layang-layang dari kain layar dan bahan-bahan sintetis sebagaimana yang dikembangkan oleh perusahaan kimia raksasa Du Pont.

Di Jerman layang-layang mendapat tempat tersendiri dalam bidang olahraga. Penggemar layang-layang di sana sudah menjadi komunitas yang aktif dan peduli. Secara periodik mereka merancang dan menemukan bentuk layang-layang yang unik dan semarak. Di Jerman layang-layang disebut “drache” (naga), yakni hewan mitologi yang amat populer di China.

Tanpa disadari, banyak ilmuwan Eropa terangsang daya pikirnya oleh layang-layang. Benjamin Franklin, misalnya, berhasil meneliti unsur listrik karena jasa layang-layang. Pada 1752 dia menaikkan layang-layang di saat hari hujan badai. Pada layang-layang tersebut digantungkan sebuah kunci. Ternyata ketika petir menyambar, terlihat loncatan api listrik dari kunci tersebut. Itulah dasar alat penangkal petir yang sekarang banyak digunakan orang.

Pada abad ke-19, Sir George Cayley menguji coba prinsip terbang dengan layang-layang bersayap. George Pocook dengan publikasinya “Seni mengarungi udara dengan bantuan layang-layang” membuat gempar dunia ilmu pengetahuan. Alexander Graham Bell, penemu telepon, pada awalnya bereksperimen dengan layang-layangnya untuk mengetahui gelombang suara lewat udara. Francis Melvin Rogallo, mendapatkan gagasan temuan pesawat terbang layangnya dari layang-layang.

Di Belanda layang-layang buatan Gerard van der Loo banyak membantu kegiatan SAR laut. Ketika helikopter tidak bisa bertahan lama di udara dan perahu penyelamat tidak bisa mendekati kapal karam, maka layang-layang besar yang diterbangkan di atas geladak kapal berfungsi sebagai alat bantu awak kapal untuk meluncur ke kapal penolong.

Perusahaan minyak Inggris, British Petroleum, pernah membuat eksperimen luar biasa dengan layang-layang. Kapal tanker perusahaannya waktu menempuh perjalanan jauh, ditarik dengan layang-layang. Setelah dikalkulasi ternyata perusahaan itu berhasil menghemat energi sekitar sepuluh persen dari jumlah energi yang biasa dihabiskannya.

Layang-layang juga menjadi ilham bagi terciptanya balon udara dan pesawat terbang yang paling sederhana. Begitulah, sebenarnya kalau kita kreatif, benda-benda yang dianggap sepele mampu menjadi alat bantu ilmu pengetahuan, bukan sekadar permainan anak-anak. (DJULIANTO SUSANTIO)

Jumat, 08 Januari 2010

Moluska Purba, Kajian Arkeolog dan Antropolog


Dari sekian jenis hasil ekskavasi arkeologi, sisa-sisa moluska purba termasuk relatif jarang ditemukan. Hanya pada situs-situs tertentu artefak-artefak tersebut banyak dijumpai. Meskipun kehadirannya kurang diperhatikan, namun keberadaan moluska purba tetap menjadi kajian menarik segelintir arkeolog. Banyak hal bisa terungkap dari hewan tersebut jika saja para pakar sanggup menafsirkannya dengan baik. Begitu juga konteksnya dengan benda-benda temuan lain, bisa berbicara banyak apabila unsur-unsur penunjangnya juga relatif banyak.

Moluska umumnya terdiri atas dua jenis hewan bertubuh lunak, yakni kerang (berkatup dua) dan keong (berkatup satu). Hewan ini sudah dikenal sejak zaman prasejarah, yakni masa sebelum manusia mengenal tulisan. Dari berbagai temuan arkeologi diketahui kerang lebih banyak dikonsumsi manusia purba dibandingkan keong.

Entah mengapa kerang lebih disukai manusia purba daripada keong. Tapi yang jelas daging kerang dan keong mengandung gizi tinggi. Banyak manusia purba, baik yang hidup di tepi pantai maupun di dalam gua, sering mengonsumsi kedua hewan itu.

Menurut penelitian para pakar prasejarah, manusia purba mulai hidup sebagai nelayan atau pencari kerang sekitar tahun 20.000 Sebelum Masehi. Mereka pun mengembangkan eksploitasi laut dengan menggunakan peralatan sangat sederhana.

Selain diambil dagingnya, cangkang moluska dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti alat pemotong, gayung, alat musik, bekal kubur, uang primitif, mas kawin, dan hiasan. Cangkang moluska tertentu diketahui menjadi benda pusaka suatu suku bangsa karena dipandang mampu melindungi seluruh warga dari segala marabahaya. Sampai sekarang masyarakat Belu, NTT, juga masih memiliki kepercayaan seperti itu. Sejumlah pusaka hanya boleh digunakan pada upacara-upacara adat oleh golongan bangsawan. Pusaka lain dipakai oleh wanita tertentu untuk melakukan tarian tradisional atau menyambut tamu-tamu agung.

Cangkang yang sangat kecil sering dirangkai menjadi kalung dan dibuat manik-manik. Perhiasan jenis ini telah dikenal sejak zaman Paleolitik Atas. Sementara itu H.R. van Heekeren pernah menemukan penggaruk dan alat tusuk dari cangkang moluska di situs Pangkajene, Sulawesi Selatan. Bukan itu saja, di situs Leang Karassa, tak jauh dari Pangkajene, Heekeren menjumpai lapisan kerang setebal 100 cm (Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I).

Bukit kerang atau bukit remis juga pernah ditemukan di Sumatera. Dalam ekskavasinya dekat Medan (1925-1926), P.V. van Stein Callenfels menemukan cangkang moluska yang dijadikan alat tiup, tempat minum, gayung, perhiasan, penggaruk, dan serut bersama-sama dengan kapak genggam. Kemungkinan besar kapak genggam itu digunakan untuk memecah cangkang yang keras. Sampai sekarang kapak genggam Sumatera merupakan artefak masa prasejarah yang sangat spesifik bentuknya.

Yang agak berbeda adalah temuan dari situs Banten Lama. Selain sejumlah besar cangkang kerang, pada situs itu ditemukan pula pecahan-pecahan keramik dan periuk. Diperkirakan situs tersebut merupakan tempat permukiman penduduk pantai yang makanan pokok serta kehidupan sehari-harinya tergantung dari hasil laut.


Data arkeologi

Meskipun fosil moluska (berusia ribuan tahun) dan moluska kuno (berusia ratusan tahun) sudah banyak ditemukan pada berbagai situs arkeologi, namun penelitian terhadap artefak-artefak itu masih jarang dilakukan orang. Baru dalam 30 tahun terakhir ini sisa-sisa moluska dipandang menjadi data arkeologi yang berguna bagi kelengkapan suatu penafsiran sejarah. Data arkeologi tersebut dipakai untuk menafsirkan hubungan penghuni purba suatu situs dengan daerah-daerah lain, terutama daerah pesisir. Dengan mengetahui lingkungan hidup atau habitat berbagai jenis moluska, para pakar antara lain dapat menyimpulkan apakah penghuni purba sudah pandai menyelam atau berlayar. Di mata pakarnya moluska juga merupakan petunjuk yang berguna dalam menentukan iklim atau cuaca dan vegetasi.

Secara umum ada tiga manfaat studi terhadap moluska. Pertama, dapat digunakan sebagai bahan aplikasi studi tentang paleoantropologi. Kedua, untuk merekonstruksi data iklim dan lingkungan purba. Ketiga, untuk studi mengenai sumber makanan. Demikian menurut Rokhus Due Awe, peneliti moluska purba dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dan Kresno Yulianto, dosen arkeologi UI.

Dibandingkan hewan-hewan lain, moluska termasuk jenis yang istimewa. Kuantitas dan kualitasnya yang menonjol menjadikan moluska merupakan hewan yang dianggap paling banyak mengandung informasi kepurbakalaan dan kesejarahan. Apalagi cangkangnya yang keras karena mengandung zat kapur, memungkinkan moluska dapat menyimpan informasi dalam cuaca bagaimanapun dan dapat bertahan selama ribuan tahun di dalam tanah.

Moluska bukan hanya menjadi objek penelitian para arkeolog. Para antropolog pun sering meneliti moluska, tentu dalam sudut pandang berbeda. Menurut Jopie Wangania, antropolog UI, terdapat empat fungsi kerang bagi manusia, yakni sebagai kerang pangan, kerang industri, kerang obat, dan kerang bermakna religius.

Kerang pangan adalah kerang yang dagingnya dapat dimakan. Kerang industri adalah kerang yang cangkangnya dapat dijadikan barang kerajinan. Kerang obat adalah kerang yang dapat dimanfaatkan sebagai obat, terutama obat kulit atau gatal-gatal. Sedangkan kerang bermakna religius adalah kerang yang digunakan pada pesta atau upacara adat suatu suku bangsa.

Sebagai sumber informasi masa lampau, moluska banyak ditemukan pada situs-situs arkeologi di NTT, Anyer, dan Gilimanuk. Ada yang bentuknya kecil, ada pula yang besar. Sayangnya, moluska masih sulit dijadikan pertanggalan mutlak, seperti halnya keramik atau mata uang. Ini karena perkembangan bentuk cangkang hewan-hewan itu relatif sama dari masa ke masa. Salah satu contohnya adalah sejenis Gastropoda yang menurut para pakar zoologi tidak memiliki perbedaan yang berarti meskipun berselang waktu ratusan tahun.

Di mata para arkeolog, temuan-temuan moluska yang memiliki tanda-tanda pemangkasan atau pengerjaan oleh manusia lebih mudah diidentifikasi. Begitu juga yang berada dalam konteks temuan atau bersama sejumlah benda arkeologis. Sebenarnya penelitian terhadap cangkang moluska bisa pula untuk mengetahui berbagai hal lain, seperti teknologi pembuatan alat, perkembangan spesies, kehidupan sosial ekonomi masyarakat, dan lingkungan hidup. Namun entah mengapa penelitian belum mengarah ke sana. (DJULIANTO SUSANTIO)


Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Kontak