Pengumuman


Blog ini tidak diperbarui atau posting artikel lagi. Selanjutnya silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Rabu, 03 Maret 2010

Pemakaian Kata Graha dan Nama Geografi


Semakin enak terdengar di telinga, semakin sering kata graha digunakan orang. Gejala demikian sudah mewabah di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sejak belasan tahun lalu. Umumnya kata graha dipakai untuk menyebut nama sebuah gedung atau bangunan megah. Ironisnya, penempatan kata graha tidak konsisten. Kadang di muka, kadang di belakang nama gedung atau bangunan tersebut.

Bina Graha dan Widya Graha, adalah contoh kata graha yang diletakkan pada bagian belakang. Graha Purna Yudha dan Graha Bhakti Budaya adalah contoh sebaliknya.

Di seluruh Indonesia pada awalnya hanya terdapat beberapa gedung atau bangunan yang menggunakan nama graha. Karena dianggap nama yang bagus maka kemudian nama graha, baik di muka maupun belakang, muncul ibarat cendawan di musim hujan. Celakanya, kata graha sudah demikian populer tanpa orang tahu apa makna kata itu sebenarnya. Parahnya lagi, banyak pihak melakukan pembenaran terhadap kesalahan yang terjadi, bukan mengoreksinya.

Graha berasal dari bahasa Sansekerta yang kemudian diserap oleh bahasa Jawa Kuno. Kata ini memiliki beberapa arti.

Arti pertama adalah gerhana, planit (yang menggenggam atau mempengaruhi nasib manusia dengan cara supernatural), nama demon atau roh jahat yang menggenggam atau menyebabkan pengaruh buruk pada tubuh dan budi manusia (menyebabkan gila, dll), dan menggenggam.

Arti kedua adalah buaya, ikan besar atau binatang laut, ikan hiu, ular, kuda nil, dll (Kamus Jawa Kuna – Indonesia, P.J. Zoetmulder, 307). Dengan demikian kata graha amat jauh sekali berhubungan dengan gedung atau bangunan. Apalagi kata graha tidak ditemukan dalam kamus-kamus bahasa Indonesia.

Kesalahan pemakaian yang sangat fatal terjadi pada kata bina graha. Pada Kamus Jawa Kuna – Indonesia tersebut ternyata tidak terdapat entry bina. Kata bina justru ditemukan pada Kamus Umum Bahasa Indonesia (W.J.S. Poerwadarminta, 141). Dinyatakan bahwa bina berasal dari bahasa Arab, berarti “bangunan”.

Dalam Kamus Jawa Kuna – Indonesia yang ada adalah bhina dan bhinna (kedengarannya tetap bina). Bhina berarti menakutkan atau mengerikan, sementara bhinna berarti belah, celah, tembus, terbagi dalam bagian-bagian, berbeda dari yang lain, terpisah, menakutkan, mengerikan, hebat, dan dahsyat (hal. 125).

Kemungkinan besar orang menggunakan kata graha dipengaruhi kata Sansekerta/Jawa Kuno, grha (dengan tanda titik di bawah huruf r). Karena kata grha sulit diucapkan, maka untuk memudahkannya orang menyisipkan huruf a di antara r dan h. Lagipula bahasa Indonesia tidak mengenal kata yang terdiri atas tiga huruf mati (konsonan) secara berurutan.

Kata grha berarti rumah, tempat tinggal, dan kediaman (Kamus Jawa Kuna – Indonesia, 309). Kata itu identik dengan kata griya (hal. 311).

Kalau bahasa Indonesia mengenal hukum DM (Diterangkan-Menerangkan), maka bahasa Sansekerta/Jawa Kuno memakai hukum MD (Menerangkan-Diterangkan). Jadi seharusnya kata grha diletakkan di belakang, bukan di depan.

Kasus kata graha harus menjadi pelajaran berharga buat kita. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang “ingin keren” tetapi tidak tahu “makna sebuah kata”.


Nama Orang

Masih ingat perkawinan kontroversi Pangeran Charles dengan Camilla Parker Bowles April 2005 lalu? Ini juga menarik dibahas. Bukan karena Pangeran Charles adalah duda keren pewaris tahta Inggris atau karena Camilla Parker Bowles adalah janda cantik yang diduga menjadi penyebab perceraian Charles dengan Diana. Bukan pula karena pesta perkawinan Charles-Camilla ditunda sehari karena bertepatan waktunya dengan pelaksanaan pemakaman Paus Yohanes Paulus II. Pembahasan akan berpokok pada nama Charles dan Camilla menurut kaidah bahasa Indonesia.

Charles merupakan tulisan asli, lalu bagaimana kita menulis dan membacanya berdasarkan kaidah bahasa Indonesia? Kalau kita menulis Kharles--karena ejaan lama ch berubah menjadi ejaan baru kh--mungkin ada benarnya. Namun sungguh canggung karena sampai saat ini tidak ada orang yang menulisnya demikian.

Kalau kita mengindonesiakan tulisan dan membacanya sekaligus Carles, ini pun sungguh merupakan kejadian yang tidak lazim. Apalagi kalau dibaca Karles.

Masalah penulisan dan pembacaan Charles, termasuk nama-nama geografi, rupanya belum mendapat perhatian serius pihak berwenang. Belum ada patokan khusus untuk menulis dan melafalkannya. Apakah sesuai dengan bahasa aslinya ataukah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, itulah yang perlu dipikirkan.

Sekadar gambaran, di Italia nama Charles disebut Carlo dan di Spanyol disebut Carlos, dengan catatan huruf c dibaca k. Jadi lafal Charles disesuaikan dengan lidah setempat.

Sekarang soal isterinya, Camilla. Dalam bahasa aslinya Camilla dibaca Kamilla. Begitu pun di Indonesia, terutama oleh pembaca berita. Mengapa tidak dibaca Camilla sebagaimana ejaan bahasa Indonesia, tentu ada alasan tersendiri yang kita tidak mengerti.

Ada kecenderungan semua nama orang ditulis dan dibaca sesuai ejaan aslinya. Contoh-contohnya sebagai berikut:
Karol Woytyla dibaca Karol Woitiwa (Bahasa Polandia)
Bhumibol Adulyadei dibaca Pumipong Adundet (Thailand)
Francois dibaca Fransoa (Prancis)
Heinrich dibaca Hainrik (Jerman)
(Ini menurut pendengaran penulis dari berita televisi dan radio)

Kita tampaknya belum mempunyai keberanian seperti Italia atau Spanyol yang menyebut nama orang sesuai dengan lidahnya sendiri, bukan lidah orang lain. Mungkin kita akan heran bila mereka menyebut Michael Jackson, bukan Maikel Jeksen tetapi Mika’el Jakson.

Beralih ke soal nama geografi. Sejak lama orang mengenal New Zealand sebagai Selandia Baru. Namun anehnya nama New York, New Delhi, dan nama-nama lain yang menggunakan new, belum ada terjemahannya. Bandingkan lagi dengan Spanyol yang menyebut Nueva York untuk New York.

Soal nama, ini tentu masih hangat, berbagai koran Indonesia memberitakan Joseph Ratzinger terpilih sebagai Paus baru. Beliau bergelar Benediktus XVI. Di mancanegara nama Paus baru itu ditulis bervariasi: Joseph-Josep-Josef-Josephum dan Benedetto-Benedecto-Benedicto-Benedict-Benedictus-Benedictum.

Pada kesempatan ini penulis hanya ingin menyarankan agar pihak berwenang memberikan patokan khusus soal penulisan dan pembacaan nama orang/geografi. (DJULIANTO SUSANTIO)

Hobi: Komunitas Pendengar Radio Gelombang Pendek


Meskipun stasiun-stasiun pemancar televisi swasta banyak bermunculan di seluruh Indonesia, tapi siaran radio ternyata tidak ditinggalkan penggemarnya. Komunitas pendengar radio di berbagai daerah tetap masih banyak. Ini karena dibandingkan televisi, radio memiliki beberapa kelebihan.

Harganya yang jauh lebih murah daripada pesawat televisi, sumber energinya bisa berupa listrik ataupun batere, dan bentuknya relatif kecil sehingga mudah dibawa ke mana-mana, menjadikan radio sebagai salah satu pilihan masyarakat untuk mendapatkan beragam hiburan dan informasi secara murah dan mudah.

Di seluruh Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 1000 stasiun radio lokal, seperti RRI sebagai radio resmi pemerintah, radio swasta, dan radio kampus. Umumnya radio-radio lokal itu berada pada jalur gelombang AM (Amplitudo Madulation), MW (Middle Wave), atau FM (Frequently Modulation). Di samping itu, berkembang pula radio internasional lewat jalur SW (Short Wave = Gelombang Pendek).

Sesuai namanya, penangkapan radio lokal sangat terbatas. Rata-rata mencapai radius 50 kilometer. Itu pun kalau kualitas radio yang dimiliki seseorang, relatif bagus buatannya.

Sebaliknya, jangkauan radio internasional begitu luas. Meskipun dipancarkan dari negeri yang jauh, siaran ini dapat ditangkap di Indonesia dan negara-negara lain karena didukung stasiun-stasiun relay di banyak negara. Sejumlah radio internasional sudah menyelenggarakan siarannya dalam bahasa Indonesia sejak puluhan tahun yang lalu.

Siaran radio internasional itu sering disebut siaran gelombang pendek. Umumnya mereka menggunakan gelombang 13 m, 16 m, 19 m, 25 m, 31 m, 41 m, dan 49 m dalam berbagai frekuensi. Berbeda dengan radio lokal yang mengudara 18 jam hingga 24 jam sehari, radio gelombang pendek hanya mengudara relatif singkat. Beberapa stasiun hanya siaran sekitar satu jam sehari. Yang terlama, sekitar enam jam sehari.

Siaran gelombang pendek bisa ditangkap melalui berbagai jenis radio, seperti radio tabung, radio transistor, dan radio digital. Sesuai kemajuan teknologi, maka siaran gelombang pendek pun kini bisa didengar lewat parabola dan bisa diakses lewat internet.


Komunitas

Masyarakat Indonesia pendengar radio gelombang pendek tak pernah surut sejak pertama kali disiarkan. Umumnya komunitas pendengarnya berada di seluruh dunia, yakni TKI, TKW, staf kedutaan, mahasiswa, pelaut, dan kelompok masyarakat lainnya. Pendengar dalam negeri terdiri atas masyarakat perkotaan dan pedesaan, dari berbagai tingkatan umur dan lapisan sosial.

Banyaknya komunitas pendengar siaran gelombang pendek dapat dilihat dari menjamurnya organisasi penggemar, antara lain Radio Listeners Club Indonesia, Media Monitoring Club, Always Group, Kelompok Pencinta Radio Gelombang Pendek, DX-Indonesia Radio Club, dan Deutsche Welle Fans Club. Meskipun kelompok-kelompok tersebut dibentuk secara informal, setidaknya tergambar bahwa komunitas pencinta radio gelombang pendek masih tetap bertahan hingga sekarang.

Informasi yang cepat menjadikan alasan utama mengapa masyarakat Indonesia senang mendengarkan siaran SW. Apalagi siaran-siaran tersebut tanpa dibumbui iklan-iklan komersial. Uniknya, pendengar setia siaran SW umumnya bersifat turun-temurun, dari kakek ke ayah, lalu ke cucu, dan seterusnya.

Namun siaran SW memiliki kelemahan mendasar, yakni suaranya kerap turun naik, berisik, dan berbagai jenis gangguan teknis lainnya. Memang dimaklumi karena siarannya dipancarkan dari negeri yang jauh sehingga gangguan pada lapisan bumi ionosfir tidak terhindarkan lagi. Gangguan suara seperti itu sering menjadi kendala bagi para SW-mania. Meskipun antena radio sudah dipasang tinggi-tinggi, bahkan dilengkapi berbagai modifikasinya, penangkapan siaran tidak pernah sempurna.

Untungnya, sejak beberapa tahun lalu, banyak pemancar lokal di seluruh Indonesia menjalin kemitraan dengan stasiun-stasiun mancanegara. Dengan demikian siaran-siaran tersebut dapat didengar melalui gelombang AM dan FM sehingga kualitas suaranya jauh lebih baik daripada kita harus mendengarkan langsung dari gelombang SW.

Di Jakarta beberapa stasiun lokal sudah menjadi mitra radio-radio internasional. Radio Elshinta me-relay BBC tiga kali sehari, yakni pukul 05.00-06.00, 18.00-18.15, dan 20.00-20.30. Radio 68 H (Radio Utan Kayu) menyiarkan Radio Suara Jerman Deutsche Welle pukul 05.00-06.00. Radio MS Tri mengudarakan Radio Suara Amerika (VOA) pukul 05.00-06.30 dan 18.30-19.30. Radio Pelita Kasih memancarkan Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi) pukul 18.30-18.45 dan (bersama Radio PAS) Radio Singapura Internasional (RSI) pukul 19.00-19.15. Sejumlah stasiun radio di daerah juga sudah menjalin kerja sama penyiaran dengan radio-radio internasional.

Selain warta berita, daya tarik siaran SW adalah kuis, kontak pendengar, dan pelajaran bahasa. Banyak pendengar, misalnya, tergiur dengan hadiah dari penyelenggaraan kuis atau sayembara. Banyak remaja memanfaatkan rubrik kontak pendengar untuk berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya. Banyak pelajar bisa belajar bahasa asing bahkan memperoleh bukunya dengan gratis.

Banyak bahan cetakan dan cendera mata juga disediakan radio-radio internasional itu, seperti pedoman acara, kartupos bergambar, foto para penyiar, naskah ilmu pengetahuan, kalender, stiker, alat tulis, notes, prangko bekas, dan vandel. Pada momen-momen tertentu bahkan ada sayembara berhadiah besar, yakni mengunjungi negara tersebut, seperti yang tengah dilakukan Radio Suara Jerman Deutsche Welle menyambut Piala Dunia 2006 ini atau Ranesi yang menyelenggarakan Sayembara Slogan berhadiah 500 Euro.

Jelas, mendengarkan siaran gelombang pendek amat bermanfaat. Ingin bergabung, silakan. (DJULIANTO SUSANTIO)

Beberapa Stasiun Radio Luar Negeri Berbahasa Indonesia

Nama Stasiun RadioAlamat SuratAlamat Situs
Radio Suara Jerman Deutsche WelleTromol Pos 1128 Jakarta 10011www.dw-world.de/indonesia
Radio Suara Amerika VOA IndonesiaKotak Pos 3053 Jakarta Pusat 10002www.voaindonesia.com
Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi)Kotak Pos 2301 Jakarta 10001 www.ranesi.nl
BBC LondonKotak Pos 2023
Jakarta 10001
www.bbcindonesia.com
Radio Australia (ABC)Kotak Pos 2299 Jakarta 10001www.abc.net.au/ra/indon
Radio Singapura Internasional (RSI)Kotak Pos 6675 JKPWK – 10350-C www.rsi.com.sg/indonesian
Radio Jepang (NHK)Kotak Pos 1245 Jakarta Pusat 10012www.nhk.or.jp/nhkworld/indonesian/
Radio IranP.O. Box 6666 JKTPMT Jakarta 10310www.irib.ir/worldservice/melayuradio/
Radio Veritas AsiaKomsos KWI P.O. Box 3044 Jakarta 10002
Radio China Internasional (CRI)
www.id.chinabroadcast.cn
Radio Suara MalaysiaWisma Radio Angkasa Puri P.O. Box 11272 Kuala Lumpur, Malaysia
Radio Taiwan Internasional (RTI)P.O. Box 1024
Surabaya 60008
www.rti.org.tw
Radio Korea (KBS)Kedubes Rep. Korea Jl. Gatot Subroto 57
Jakarta 12041
www.world.kbs.co.kr/indonesian


Didaktika: Ganti Tahun, Ganti Penerbit


Tahun ajaran lama 2004/2005 telah berlalu. Tahun ajaran baru 2005/2006 datang menjelang. Para penerbit bersiasat mendekati sekolah. Pihak sekolah memutar otak bagaimana mencari tambahan penghasilan dari para murid. Toko-toko buku menggelar diskon. Para orang tua hanya bisa pasrah atas kemauan sekolah. Begitulah kejadian yang terus berulang setiap tahunnya tanpa ada penyelesaiannya.

Sekolah menjual buku pelajaran bukanlah peristiwa langka lagi. Ini tentu “berkat kerja sama yang baik” dengan penerbit. Padahal menurut aturan dagang, sekolah dilarang menjual buku. Toko bukulah yang berhak atas hal ini.

Tapi inilah ironi bisnis. Kalau sekolah mau menjual buku mengapa penerbit tidak memberikannya? Toh, menjual kepada siapa saja tetap memberikan keuntungan finansial bagi penerbit.

Penerbit harus jeli. Pihak sekolah pun demikian. Siapa yang berani memberikan diskon lebih tinggi, buku-bukunya pasti dipakai oleh sekolah bersangkutan. Kejadian seperti ini kerap dijumpai pada banyak sekolah di seluruh Indonesia. Ada yang langganan penerbit A, penerbit B, dst. Ada pula yang berganti-ganti dari penerbit A ke penerbit B, dst.

Buat orang tua, memang ada keuntungannya kalau membeli buku lewat sekolah. Apalagi ada “ancaman” dari pihak sekolah bahwa penjualan buku hanya dilakukan saat itu juga. Di luar hari yang sudah ditentukan, maka pembelian buku harus dilakukan di luar sekolah.

Hanya kerugian bagi orang tua adalah sekolah tidak memberikan diskon terhadap pembelian tersebut. Waktu yang terlalu mepet itulah yang menyebabkan banyak orang tua enggan mencarinya di luaran. Mereka terpaksa membelinya di sekolah, meskipun tahu harganya lebih mahal.

Praktek bisnis sering kali melupakan segala hal. Satu sekolah selalu bergonta-ganti buku pelajaran setiap tahunnya. Sebagai orang tua murid SD kelas 4 dan 6, saya merasakan sekali “ganti tahun, ganti penerbit”. Hal itu tentu terasa memberatkan para orang tua.

Karena bergonta-ganti penerbit, maka sang adik tidak bisa lagi menggunakan buku sang kakak, padahal mereka satu sekolah. Bukan kali ini saja, melainkan sejak si adik duduk di kelas 1. Akibatnya, para orang tua harus membeli buku baru lagi.

Banyak penerbit pun sering kali melakukan “praktek kotor” sehingga merugikan para orang tua. Beberapa tahun lalu sewaktu sekolah menggunakan sistem caturwulan, maka buku-buku dicetak dalam tiga jilid (A, B, dan C). Namun ketika sistem pendidikan memakai semester, pencetakan buku-buku pun disesuaikan menjadi dua jilid (A dan B).

Umumnya isi buku tetap sama, hanya halamannya agak berbeda. Coba, murid SD mana yang tidak bingung? Kalau mau tidak bingung, ya harus membeli buku baru. Tidak dimungkiri kalau hal ini merupakan kejelian penerbit menangkap peluang bisnis agar bukunya laku.

Yang keterlaluan, penerbit atau pengarang sering mengubah format bacaan pada buku yang sama. Pada sebuah buku Bahasa Indonesia edisi 2002, misalnya, bacaannya mengenai “Tono Bermain Sepakbola”. Namun pada edisi 2003 berubah menjadi “Badu Bermain Voli”. Nah, anak mana yang tidak bingung (dan mungkin takut kepada guru) bila memakai edisi lama. Agar anak tidak bingung, ya terpaksa beli buku baru.

Ini satu lagi kejelian penerbit. Pada tahun sebelumnya penerbit memberi judul bukunya “Ilmu Pengetahuan Alam” dan “Ilmu Pengetahuan Sosial”. Namun pada tahun berikutnya diganti “Sains” dan “IPS Terpadu”. Padahal ya istilahnya sama, penerbitnya itu-itu juga. Ilustrasi pada sampul muka pun agak diubah. Nah, orang tua mana yang tidak kecewa padahal isi buku sebagian besar masih sama.

Satu hal lainnya adalah pada buku-buku sebelum 2004 umumnya bertuliskan “Kurikulum 1994, Suplemen GBPP 1999”. Namun sejak 2004 tulisannya berubah “Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi” atau “KBK 2004”. Sudah terang, orang tua lagi yang menjadi korban.

Sering berubahnya kurikulum memang menunjukkan peningkatan mutu pendidikan. Kurikulum berubah berarti buku pun berganti.

Seyogyanya penerbit tidak melulu berorientasi bisnis. Penerbit harus memikirkan bagaimana menampung kembali buku-buku yang pernah diterbitkannya. Saya mempunyai banyak buku SD (dari kelas 1 hingga kelas 3) yang tidak mungkin terpakai lagi oleh murid-murid di bawah generasi anak saya. Orang-orang tua lainnya pasti senasib dengan saya.

Lain halnya dengan zaman dulu sewaktu saya duduk di SD. Saya hanya meminjam buku Cerdas Tangkas atau Bahasaku dari kerabat saya Buku-buku lainnya juga tak pernah membeli, kecuali kalau terpaksa. Sebab buku-buku yang saya pakai berstatus sewaan dari sekolah.

Sekarang segala buku harus dibeli. Sulit untuk meminjam karena perubahan kurikulum terlalu cepat; modifikasi bahasa oleh penerbit/pengarang; modifikasi ilustrasi; dan sering kali dijumpai buku-buku tersebut sering dicorat-coret anak karena latihan soal bersatu di dalamnya. Perlu dipikirkan agar latihan soal disediakan pada buku tersendiri.

Buku sekali pakai merupakan keuntungan besar buat penerbit. Sebaliknya kerugian besar buat para orang tua. Harus dicari jalan tengahnya agar tidak merugikan kedua belah pihak. (DJULIANTO SUSANTIO)

Jumat, 26 Februari 2010

Konkologi, Koleksi Cangkang Moluska


Kalau kamu suka ke pantai, apalagi terampil menyelam, jangan lewatkan hobi yang satu ini. Jalan-jalan, menjelajah, menyelam, dan kegiatan lain sangatlah klop untuk kamu-kamu yang menyenangi koleksi cangkang hewan.

Memang, di mata banyak orang kata cangkang sepertinya tak bermakna lagi. Cangkang, terutama, cangkang kerang dan keong, sering berserakan di tepi-tepi pantai. Namun di mata segelintir orang, cangkang mempunyai manfaat besar. Cangkang dicari, dibersihkan, dan disimpan. Bahkan diteliti, dilestarikan, dihibahkan, dipertukarkan, dijual, dibawa ke mancanegara, dan dipamerkan.

Orang mengumpulkan cangkang moluska karena keindahan warnanya dan keunikan bentuknya. Moluska berasal dari kata Latin molluscus yang berarti lunak karena memang tubuh hewan itu sangat lunak. Hewan moluska yang paling dikenal adalah kerang (berkatup atau bercangkang dua) dan keong (bercangkang satu).

Cangkang moluska sangat kuat dan keras karena terbuat dari kandungan kalsium karbonat. Daya tahannya sangat lama. Karena itu banyak orang memburunya untuk dijadikan benda koleksi. Apalagi jumlah moluska di seluruh dunia mencapai puluhan ribu spesies, sekitar 15.000 di antaranya terdapat di Indonesia. Umumnya moluska hidup di air laut dan air tawar. Banyak juga terdapat di air payau dan daratan.


Konkologi

Jenis moluska yang paling banyak dicari kolektor adalah konk (conch). Cangkang konk mempunyai puncak spiral yang kecil di ujungnya dengan lingkaran besar di bagian bawah. Konk banyak ditemukan di berbagai belahan dunia dari masa ke masa. Karena populernya, maka pengetahuan tentang cangkang moluska kerap disebut konkologi dan kolektornya dinamakan konkologis. Pada sebagian masyarakat ilmiah dikenal pula istilah malakalogi. Pengetahuan ini bukan hanya mempelajari cangkang moluska, tetapi juga seluruh isi tubuhnya.

Bila kamu berminat menjadi konkologis, kumpulkan dulu koleksi yang paling mudah dijumpai, baik dengan cara mencari sendiri maupun meminta atau membeli. Jika sudah mapan, mulailah melihat-lihat keanehan dan kelangkaan suatu koleksi. Koleksi yang aneh dan langka biasanya berasal dari laut dalam. Di Indonesia laut dalam sangat sedikit jumlahnya dibandingkan laut dangkal.

Moluska yang baik untuk dikoleksi adalah hewan hidup dan berasal dari dalam air. Cangkangnya masih berkilat atau berkilauan alami karena jarang terkena sinar matahari secara langsung. Warnanya pun lebih cerah dibandingkan moluska yang telah mati.

Agar memperoleh cangkang yang bagus, kita harus mematikan hewan tersebut. Jika kamu pandai memasak, mungkin tidak menjadi masalah karena daging moluska enak dimakan dan mengandung gizi tinggi. Buat lainnya? Umumnya konkologis menggunakan metode tradisional, yaitu mengubur hewan itu hidup-hidup dalam pasir. Kira-kira satu minggu kemudian daging moluska sudah membusuk.

Sebenarnya ada cara yang paling cepat untuk mengeluarkan daging moluska, yakni merebusnya. Tapi cara ini sangat membahayakan cangkang. Selain bisa retak, warna cangkang pun akan memudar. Dari segi estetis, hal itu amat tidak disukai konkologis.

Setelah dagingnya dikeluarkan, cangkang harus dibersihkan dengan cara direndam, disemprot, dan digosok. Pengerjaan harus hati-hati sekali, terlebih bila ada lumut atau garam-garaman yang mengeras.

Koleksi yang sudah bersih sebaiknya dimasukkan ke dalam kantong plastik agar tidak teroksidasi dengan udara luar atau berubah warna. Boleh juga langsung diletakkan dalam tempat penyimpanan yang sudah dialasi bahan lembut.

Untuk membuka wawasan berkoleksi, kamu harus rajin membaca buku katalogus. Sayang karena di Indonesia dunia konkologi belum semaju negara-negara Barat, maka belum ada buku katalogus yang berbahasa Indonesia.

Negara Asia yang termaju konkologinya adalah Jepang. Dari katalogus terlihat harga cangkang kecil, kira-kira sebesar ibu jari bayi, mencapai belasan dollar sebuah.

Ironis memang, konkologis Indonesia masih tertinggal jauh di belakang, padahal kekayaan fauna Indonesia sangat luar biasa. Justru Belanda yang mengambil keuntungan dari potensi perairan kita. Dulu sewaktu VOC berkuasa, peneliti-peneliti Belanda berhasil mengumpulkan ribuan spesies moluska Indonesia lewat Ekspedisi Rumphius di perairan Maluku. Jadilah Indonesia penghasil moluska, Belanda yang punya koleksi kita.


Mencari Informasi

Ada berbagai langkah untuk menjadi konkologis yang baik atau paling tidak menyenangi moluska. Yang utama adalah banyak membaca referensi atau literatur. Pekerjaan ini amat dituntut dan mutlak adanya. Tanpa membaca kita tidak akan tahu tingkah laku atau kehidupan sehari-hari hewan tersebut.

Menurut literatur, banyak kerang dan keong hidup dengan membenamkan diri di dasar laut atau sela-sela karang, payau, dan danau. Bahkan ada yang menempel pada benda-benda lain. Bila kita sudah tahu kehidupan hewan-hewan itu, tentu mata kita akan jeli, terutama di sekitar lokasi habitat mereka. Banyak moluska pandai melakukan penyamaran (kamuflase). Kalau tidak hati-hati, bisa-bisa sasaran akan meloloskan diri.

Saat ini ada beberapa moluska yang dilindungi karena spesiesnya sudah langka. Nah, waspadalah, jangan sampai hobi ini malah merusakkan lingkungan, terumbu karang, dan menghilangkan spesies langka. Berbagai ensiklopedia, baik berbahasa Indonesia maupun bahasa asing, banyak menginformasikan moluska. Begitu pun buku-buku macam Sea Shells of the World atau Shells of the World.

Ada berbagai lembaga ilmiah yang patut dikunjungi. Museum Bahari di bilangan Jakarta Kota, menyimpan sedikit informasi tentang biota laut. Kita bisa melihat sekaligus mengetahuinya. Informasi yang lebih lengkap ada di Museum Zoologi Bogor. Museum ini juga memamerkan berbagai jenis moluska dari seluruh Indonesia.

Di Makasar ada museum yang khusus menyajikan koleksi moluska. Museum ini milik keluarga Clara Bundt. Terletak di dekat Pantai Losari. Bundt sendiri ibarat ensiklopedia hidup. Dia banyak tahu tentang asal usul dan nama suatu moluska. Museum Bundt merupakan museum moluska terlengkap di Indonesia. Banyak pelajar, mahasiswa, dan kalangan akademisi melakukan penelitian di sini. Lebih dari itu, museum Bundt menjadi objek wisata andalan Makasar karena selalu dimasukkan ke dalam brosur-brosur pariwisata regional, nasional, dan internasional.

Di Jakarta konkologis yang mempunyai koleksi relatif banyak antara lain Dr. Jopie Wangania (ahli antropologi UI), Rae Sita Supit (bintang film era 1970-an), dan Ir. Arief (karyawan swasta). Yang tergolong lengkap adalah milik Jopie Wangania. Dia bukan hanya mengoleksi cangkang moluska, tetapi juga prangko, hiasan, literatur, cendera mata, resep makanan, dan makanan kaleng dari berbagai negara. Tentu saja semuanya bergambar atau berhubungan dengan moluska.

Untuk jenis moluska purba, informasi bisa diperoleh dari berbagai museum. Beberapa lembaga penelitian seperti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi, kerap menyimpan data tentang moluska. Sejak lama berbagai ekskavasi arkeologi sering menemukan cangkang moluska, baik sebagai bekal kubur atau alat tukar, maupun sebagai bahan konsumsi atau pelengkap ritual.

Moluska hidup berkesinambungan sejak zaman purba hingga kini. Maka mengoleksi dan mempelajari moluska selalu mempunyai nilai tambah yang tiada taranya.


Informasi Pengetahuan

Moluska berfungsi sebagai benda koleksi sekaligus informasi ilmu pengetahuan. Koleksi ini sudah dikenal sejak zaman prasejarah, yakni masa sebelum manusia mengenal sumber tertulis. Dulu kerang banyak dikonsumsi manusia purba, sebagaimana ditunjukkan temuan-temuan arkeologis berupa kulit kerang.

Bukan itu saja. Moluska juga banyak digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti alat pemotong atau keperluan lain yang berhubungan dengan kelangsungan hidup. Selanjutnya seiring masyarakat mulai memahami kebudayaan baru, mereka melakukan penguburan terhadap orang yang meninggal. Bersama si arwah disertakan pula perhiasan-perhiasan dari kulit kerang sebagai bekal kubur.

Manusia purba yang hidup di tepi pantai dan dalam gua juga sangat tergantung pada bahan-bahan makanan laut. Diperkirakan sebagian besar makanan pokok masyarakat zaman itu adalah kerang dan keong. Hal ini berdasarkan penemuan sejumlah besar kulit kerang dan keong di dalam timbunan yang membukit di sejumlah situs arkeologi.

Menurut para pakar prasejarah, eksploitasi laut mulai dikembangkan sekitar tahun 20.000 SM. Pada masa itu masyarakat hidup sebagai nelayan atau pencari kerang.

H.R. van Heekeren pada 1930-an melakukan ekskavasi di Leang Karassa, Sulawesi Selatan. Di situ dijumpai lapisan kerang setebal 100 sentimeter. Penyelidikan van Heekeren pada 1937 di Pangkajene menghasilkan sejumlah besar alat dari kerang seperti penggaruk dan alat tusuk.

Di Sumatera terdapat bukit kerang atau bukit remis. Bukit-bukit ini bergaris tengah sekitar 30 meter dengan tinggi tidak kurang dari 4,50 meter.

Seorang peneliti lainnya, H. Witkamp menyebutkan bukit kerang ini adalah hasil suatu kegiatan manusia dulu kala. Di dalamnya antara lain terdapat kulit kerang dan tulang-tulang hewan.

Pada 1925 dan 1926 P.V. van Stein Callenfels melakukan ekskavasi di sebuah bukit kerang dekat Medan. Hasilnya berupa kerang dan kapak genggam Sumatera. Kerang ini kemudian diteliti oleh van der Meer Mohr.

Mohr menyimpulkan kerang tersebut dipergunakan sebagai alat tiup, tempat minum, dan gayung air. Ada pula yang dipakai sebagai perhiasan dengan jalan melubangi kerang itu. Sebagian lagi dijadikan alat-alat seperti penggaruk dan serut.

Selain itu terdapat jenis-jenis kerang yang dijadikan makanan. Cara memakannya, kerang dipanaskan kemudian isinya diambil. Ada pula yang harus dipecah terlebih dulu, baru dikeluarkan isinya.

Penelitian terhadap bukit kerang pernah dilakukan pula oleh H.M.E. Schurmann di Binjai. Dari penemuan alat-alat berupa kapak genggam, penggaruk, tusukan, dan sisa-sisa kerang para pakar menyimpulkan bahwa kehidupan waktu itu berada dalam taraf berburu, mengumpulkan makanan, dan mencari makanan di laut. Diduga kapak genggam digunakan untuk memecah kulit kerang yang keras.

Pada masa-masa selanjutnya para arkeolog menemukan kerang pada sejumlah situs yang terletak di pesisir. Ekskavasi di Banten, misalnya, menghasilkan sejumlah besar kerang bersama pecahan periuk dan keramik. Melihat konteksnya para pakar memperkirakan bahwa situs tersebut merupakan tempat permukiman penduduk pantai yang makanan pokok serta kehidupan sehari-harinya tergantung dari hasil laut.


Fungsi Kerang

Kerang pernah berfungsi sebagai alat tukar (barter) dan mas kawin. Kerang pun menjadi hiasan perahu layar beberapa suku bangsa. Sekelompok suku bangsa memperlakukan kerang sebagai unsur religius karena mereka menganggap kerang melindungi seluruh warga dari segala mara bahaya.

Sisa-sisa moluska menjadi data arkeologi yang berguna bagi kelengkapan suatu penafsiran sejarah. Data arkeologi tersebut dipakai sebagai petunjuk hubungan penghuni purba suatu situs dengan daerah-daerah lain, terutama daerah pesisir. Dengan mengetahui lingkungan hidup atau habitat berbagai jenis moluska, dapat disimpulkan apakah penghuni purba sudah pandai menyelam atau berlayar. Moluska juga merupakan petunjuk yang berguna dalam menentukan iklim atau cuaca dan vegetasi.

Secara umum ada tiga manfaat studi terhadap moluska. Pertama, dapat digunakan sebagai bahan aplikasi studi tentang paleoantropologi. Kedua, untuk merekonstruksi data iklim dan lingkungan purba. Ketiga, untuk studi mengenai sumber makanan. Demikian menurut penelitian Rokhus Due Awe, ahli moluska purba dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Kresno Yulianto, dosen arkeologi UI.

Sampai sekarang masyarakat Belu, NTT, masih memiliki beberapa pusaka unik. Pusaka ini mengandung pola hias prasejarah. Pola hias tersebut disusun atau disulam dari manik-manik dan dikelilingi bahan dari kulit moluska. Pusaka berujud kain ini hanya digunakan pada upacara-upacara adat, umpamanya gake ngadhu atau pembuatan rumah adat suku yang baru dan hanya boleh dipakai oleh golongan bangsawan.

Di Belu juga terdapat benda-benda perlengkapan wanita yang biasa digunakan pada waktu melakukan tarian tradisional atau menyambut tamu-tamu agung. Perlengkapan ini berupa tusuk konde yang diberi untaian manik-manik dari kulit kerang.

Banyak kerang berukuran kecil dipakai sebagai bahan makanan dan peralatan. Moluska kecil lain, baik yang mempunyai dua katup maupun yang berbentuk spiral, sering kali dilubangi sekaligus dijalin dengan benang atau tali untuk dijadikan kalung. Perhiasan jenis ini telah dikenal sejak zaman Paleolitik Atas. Kerang yang lebih besar dimanfaatkan untuk gelang dan merjan (manik-manik).

Dibandingkan hewan-hewan lain moluska termasuk jenis yang istimewa. Kulitnya yang mengandung unsur kapur memungkinkan hewan itu hidup tahan lama dalam cuaca bagaimanapun. Hal ini sangat menguntungkan para peneliti. Berkat kelebihan itu para pakar berhasil menafsirkan berbagai aspek ilmu pengetahuan, seperti permukiman, mata pencarian, gizi, dan perdagangan sejak zaman purba.


Cowry

Di mata masyarakat kuno cowry adalah jenis keong yang paling mendapat perhatian. Hewan berbentuk spiral ini dulu digunakan sebagai alat tukar. Jenis ini semakin populer karena dianggap sebagai simbol alat kelamin wanita, dipercaya melambangkan kesuburan. Kecuali dipuja dan dihormati, cowry juga diperdagangkan.

Menurut penelitian antropolog Jopie Wangania, terdapat empat fungsi kerang bagi manusia, yakni sebagai kerang pangan, kerang industri, kerang obat, dan kerang bermakna religius. Kerang pangan adalah kerang yang dagingnya dapat dimakan. Tidak semua kerang dapat dimakan karena beberapa jenis kerang mengandung racun.

Kerang industri adalah kerang yang kulitnya dapat dijadikan barang kerajinan, seperti hiasan ruangan atau benda dekorasi.

Kerang obat adalah kerang yang dapat dipergunakan sebagai obat. Misalnya untuk menyembuhkan penyakit gatal. Umumnya kulit kerang itu dibakar kemudian ditumbuk sampai halus. Serbuk ini dianggap mujarab sebagai obat oleh berbagai suku bangsa.

Kerang bermakna religius adalah kerang yang digunakan pada saat pesta atau upacara, seperti yang dilakukan suku Dani di Papua. Pada masyarakat itu para kerabat datang ke upacara duka dengan membawa kerang. Saat upacara berlangsung kerang-kerang tersebut dijejerkan menurut kedudukan kekerabatan.

Moluska banyak ditemukan pada situs-situs arkeologi di NTT, Anyer, dan Gilimanuk. Ada yang bentuknya kecil, ada pula yang besar. Namun moluska sulit dijadikan pertanggalan, seperti halnya keramik dan mata uang. Ini karena perkembangan bentuk cangkang hewan-hewan itu relatif sama dari masa ke masa. Dalam periode seratus tahun, misalnya, bentuk Gastropoda (salah satu spesiesnya) belum tentu berubah.

Di mata para arkeolog, lebih mudah mengidentifikasi temuan-temuan moluska yang ada tanda-tanda pemangkasan atau pengerjaan oleh manusia. Begitu juga temuan-temuan moluska yang berada dalam konteks temuan atau bersama sejumlah benda arkeologis.

Di situs Gilimanuk, misalnya, pernah ditemukan banyak kerang yang punggungnya dipangkas. Semula temuan-temuan tersebut sulit diketahui fungsinya. Namun karena bentuk-bentuk seperti itu masih ditemukan di NTT—berfungsi sebagai bandul jaring—maka para arkeolog pun menganalogikan demikian, yakni dulu kerang-kerang tersebut berfungsi sebagai bandul jaring.

Nah, mulailah menjadi konkologis profesional. Sekarang kamu bukan hanya tahu moluska sebagai benda koleksi, tetapi juga peranannya dalam berbagai bidang iptek. (DJULIANTO SUSANTIO)

Moluska Purba, Dari Makanan Hingga Bekal Kubur


Moluska terdiri atas kerang (berkatup dua) dan keong (berkatup satu). Entah disadari, entah tidak, seharusnya para pakar melakukan kajian terhadap moluska karena hewan kecil ini banyak memberikan informasi ilmu pengetahuan. Sayangnya, belum banyak pakar melakukan penelitian terhadap moluska.

Padahal moluska sudah dikenal sejak zaman prasejarah, yakni masa sebelum manusia mengenal sumber tertulis, ribuan tahun yang lalu. Pada masa itu manusia purba banyak mengonsumsi kerang dan keong, sebagaimana ditunjukkan tumpukan kulit kerang pada beberapa situs arkeologi (istilah kerang lebih populer daripada keong).

Kerang dan keong merupakan hewan bertubuh lunak. Beberapa jenis kerang dan keong dagingnya mengandung gizi tinggi. Tak dimungkiri kalau manusia purba, baik yang hidup di tepi pantai maupun di dalam gua, sangat tergantung pada bahan-bahan makanan itu. Eksploitasi laut mulai dikembangkan masyarakat purba sekitar tahun 20.000 SM dengan hidup sebagai nelayan atau pencari kerang.

Moluska purba banyak digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti alat pemotong atau keperluan lain yang berhubungan dengan kelangsungan hidup dan sebagai bekal kubur. Dulu, bersama si arwah yang dikubur disertakan perhiasan-perhiasan dari kulit kerang. Mungkin ini dimaksudkan sebagai penolak bala atau agar si arwah cepat mencapai “dunia sana”.


Ekskavasi

Sisa-sisa cangkang moluska, terutama kerang, banyak ditemukan dalam berbagai ekskavasi arkeologi. H.R. van Heekeren pada 1930-an menjumpai lapisan kerang setebal 100 cm di Leang Karassa, Sulawesi Selatan. Penyelidikan van Heekeren selanjutnya di Pangkajene menghasilkan sejumlah besar alat dari kerang seperti penggaruk dan alat tusuk. Mungkin ini merupakan cara pendayagunaan kerang yang optimal, yakni dagingnya dimakan lalu cangkangnya dibuat peralatan rumah tangga.

Di Sumatera terdapat bukit kerang atau bukit remis. Bukit-bukit ini bergaris tengah sekitar 30 meter dengan tinggi tidak kurang dari 4,50 meter. Menurut penelitian H. Witkamp, bukit kerang ini merupakan hasil suatu kegiatan manusia dulu kala. Selain kulit kerang di dalamnya terdapat tulang-tulang hewan.

Pada 1925 dan 1926 P.V. van Stein Callenfels melakukan ekskavasi di sebuah bukit kerang dekat Medan. Hasilnya berupa kerang dan kapak genggam Sumatera. Kerang ini kemudian diteliti oleh van der Meer Mohr.

Dia menyimpulkan bahwa kerang tersebut pernah dipergunakan sebagai alat tiup, tempat minum, dan gayung air. Ada pula yang dipakai sebagai perhiasan dengan jalan melubangi kerang itu. Sebagian lagi dijadikan alat-alat seperti penggaruk dan serut.

Selain itu terdapat jenis-jenis kerang yang dijadikan makanan. Cara memakannya, kerang dipanaskan kemudian isinya diambil. Ada pula yang harus dipecah terlebih dulu, baru dikeluarkan isinya.

Penelitian terhadap bukit kerang dilakukan pula oleh H.M.E. Schurmann di Binjai. Dari penemuan kapak genggam, penggaruk, tusukan, dan sisa-sisa kerang, para pakar menyimpulkan bahwa kehidupan waktu itu berada dalam taraf berburu, mengumpulkan makanan, dan mencari makanan di laut. Diduga kapak genggam digunakan untuk memecah kulit kerang yang keras (Sejarah Nasional Indonesia, I).

Pada masa-masa selanjutnya para arkeolog menemukan kerang pada sejumlah situs yang terletak di pesisir. Ekskavasi di Banten, misalnya, menghasilkan sejumlah besar kerang bersama pecahan periuk dan keramik. Melihat konteksnya para pakar memerkirakan bahwa situs tersebut merupakan tempat permukiman penduduk pantai yang makanan pokok serta kehidupan sehari-harinya tergantung dari hasil laut.

Kerang pernah berfungsi sebagai alat tukar (barter) dan mas kawin. Kerang pun menjadi hiasan perahu layar beberapa suku bangsa. Sekelompok suku bangsa memerlakukan kerang sebagai unsur religius karena mereka menganggap kerang melindungi seluruh warga dari segala mara bahaya.


Data Arkeologi

Sisa-sisa moluska menjadi data arkeologi yang berguna bagi kelengkapan suatu penafsiran sejarah. Data arkeologi tersebut dipakai sebagai petunjuk hubungan penghuni purba suatu situs dengan daerah-daerah lain, terutama daerah pesisir. Dengan mengetahui lingkungan hidup atau habitat berbagai jenis moluska, dapat disimpulkan apakah penghuni purba sudah pandai menyelam atau berlayar. Moluska juga merupakan petunjuk yang berguna dalam menentukan iklim atau cuaca dan vegetasi.

Secara umum ada tiga manfaat studi terhadap moluska. Pertama, dapat digunakan sebagai bahan aplikasi studi tentang paleoantropologi. Kedua, untuk merekonstruksi data iklim dan lingkungan purba. Ketiga, untuk studi mengenai sumber makanan. Demikian menurut Rokhus Due Awe, peneliti moluska purba dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Kresno Yulianto, dosen arkeologi UI.

Sampai sekarang masyarakat Belu, NTT, masih memiliki beberapa pusaka unik. Pusaka ini mengandung pola hias prasejarah. Pola hias tersebut disusun atau disulam dari manik-manik dan dikelilingi bahan dari cangkang moluska. Pusaka berujud kain ini hanya digunakan pada upacara-upacara adat, umpamanya gake ngadhu atau pembuatan rumah adat suku yang baru dan hanya boleh dipakai oleh golongan bangsawan.

Di Belu juga terdapat benda-benda perlengkapan wanita yang biasa digunakan pada waktu melakukan tarian tradisional atau menyambut tamu-tamu agung. Perlengkapan ini berupa tusuk konde yang diberi untaian manik-manik dari kulit kerang.

Banyak kerang berukuran kecil dipakai sebagai bahan makanan dan peralatan. Moluska kecil lain, baik yang mempunyai dua katup maupun yang berbentuk spiral, sering kali dilubangi sekaligus dijalin dengan benang atau tali untuk dijadikan kalung. Perhiasan jenis ini telah dikenal sejak zaman Paleolitik Atas. Kerang yang lebih besar dimanfaatkan untuk gelang dan merjan (manik-manik).

Dibandingkan hewan-hewan lain moluska termasuk jenis yang istimewa. Kulitnya yang mengandung unsur kapur memungkinkan hewan itu hidup tahan lama dalam cuaca bagaimanapun. Hal ini sangat menguntungkan para peneliti. Berkat kelebihan itu para pakar berhasil menafsirkan berbagai aspek ilmu pengetahuan, seperti permukiman, mata pencarian, gizi, dan perdagangan sejak zaman purba.

Moluska banyak ditemukan pada situs-situs arkeologi di NTT, Anyer, dan Gilimanuk. Ada yang bentuknya kecil, ada pula yang besar. Namun moluska masih sulit dijadikan pertanggalan, seperti halnya keramik atau mata uang. Ini karena perkembangan bentuk cangkang hewan-hewan itu relatif sama dari masa ke masa. Dalam periode seratus tahun, misalnya, menurut penelitian para zoolog bentuk Gastropoda (salah satu spesiesnya) tidak pernah berubah.

Di mata para arkeolog, temuan-temuan moluska yang memiliki tanda-tanda pemangkasan atau pengerjaan oleh manusia lebih mudah diidentifikasi. Begitu juga yang berada dalam konteks temuan atau bersama sejumlah benda arkeologis.

Di situs Gilimanuk, misalnya, pernah ditemukan banyak kerang yang punggungnya dipangkas. Semula temuan-temuan tersebut sulit diketahui fungsinya. Namun karena bentuk-bentuk seperti itu masih ditemukan di NTT (berfungsi sebagai bandul jaring) maka para arkeolog pun menganalogikan demikian, yakni dulu kerang-kerang tersebut berfungsi sebagai bandul jaring. (DJULIANTO SUSANTIO)

Kontak