Pengumuman


Blog ini tidak diperbarui atau posting artikel lagi. Selanjutnya silakan kunjungi hurahura.wordpress.com
Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Februari 2010

Profesi Konservator, Langka Karena Dana


Memelihara atau merawat benda-benda seni kuno, relatif sulit dilakukan orang. Banyak faktor yang menyebabkan benda-benda lama butuh perhatian lebih. Selain cuaca yang ekstrem, seperti sering diterpa angin, sinar matahari, dan hujan, faktor lain berasal dari pengaruh biologis, kimiawi, dan dari dalam benda itu sendiri. Arca-arca batu pada candi yang berlumut dan berjamur, naskah-naskah kuno yang dimakan kutu, kayu-kayu antik yang diserang rayap, atau artefak-artefak logam yang dipenuhi karat, menandakan bahwa benda-benda masa lalu tidak pernah tahan terhadap alam dan organisme-organisme perusak. Kerusakan akan semakin parah apabila benda-benda itu semakin tua umurnya.

Benda-benda antik yang rentan terhadap kerusakan umumnya terbuat dari bahan-bahan yang lunak, misalnya lukisan, naskah, dokumen, dan kain. Karena terbuat dari kertas dan bagian-bagian tumbuhan, benda-benda itu akan lebih mudah koyak. Jarang ada artefak-artefak seperti itu yang tahan sampai ratusan tahun.

Umumnya artefak-artefak kuno yang kurang terawat adalah milik instansi-instansi pemerintah. Kurangnya dana pemeliharaan dan kelangkaan sumber daya manusia sering dituding menjadi penyebab rusaknya berbagai koleksi milik museum atau lembaga sejenisnya. Contoh yang masih hangat adalah sejumlah lukisan milik Dewan Kesenian Jakarta yang rusak karena ruangan penyimpanan terlalu sempit dan pengap..


Konservator

Dari sekian banyaknya warisan budaya, lukisanlah yang boleh dibilang paling mendapat perhatian. Ini karena lukisan relatif lebih mudah ditangani daripada artefak-artefak lain. Di Indonesia, meskipun belum ada lembaga pendidikan formal, sudah ada beberapa konservator yang mampu mereparasi lukisan-lukisan rusak.

Profesi konservator lukisan memang masih tergolong langka. Dia bukan hanya memperbaiki lukisan yang amburadul, tetapi juga harus mampu membetulkan warna-warna lukisan yang sudah kusam agar berkesan baru kembali. Ketelitian, kesabaran, dan berbagai pengetahuan seni harus benar-benar dimiliki seorang konservator. Masalahnya, dia harus bisa melakukan riset warna, riset bahan, dan teknik-teknik perbaikan agar sebuah lukisan tidak hilang atau pudar nilai estetikanya.

Berbicara pemeliharaan lukisan, mungkin kita harus belajar dari konservator-konservator Eropa. Mereka, terutama para pegawai museum, sangat terampil menangani lukisan-lukisan yang berada dalam kondisi mengkhawatirkan, termasuk lukisan di tembok gereja atau bangunan-bangunan kuno lain. Mereka ditunjang oleh peralatan yang canggih, seperti kamera sinar X untuk mengamati detil dan komputer modern untuk berbagai analisis.

Memang, pekerjaan yang mereka lakukan baru rampung dalam waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tetapi hasil yang mereka capai sungguh mengagumkan dunia ilmu pengetahuan, seperti yang tampak dari lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci.

Selain lukisan, artefak lain yang perlu diperhatikan adalah dokumen yang umumnya berbahan kertas. Di negara kita baru kantor Arsip Nasional yang mampu menangani konservasi kertas, padahal jumlah arsip kertas dari seluruh Indonesia tak terhitung banyaknya.

Dalam penanganan arsip kertas, yang sulit dilakukan adalah menemukan huruf atau kata yang hilang. Jika sudah diperoleh, barulah kertas-kertas tersebut di-laminating. Teknik laminating merupakan cara yang efektif untuk melestarikan dokumen agar bisa bertahan dalam jangka waktu selama mungkin.


Museum

Di Indonesia sampai sekarang belum ada lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan ilmu konservasi. Sebenarnya sudah sejak lama ilmu konservasi merupakan bagian dari ilmu arkeologi, terutama semasa awal pemugaran Candi Borobudur di tahun 1970-an. Namun konservasi yang dilakukan baru terbatas pada batu-batu candi yang terkena penyakit batu, lumut, jamur, dan zat-zat organik lain.

Rencananya dalam ilmu arkeologi ada subdisiplin kemiko-arkeologi atau arkeologi kimia dengan titik sasaran konservasi artefak purba. Sayang pengadaan laboratorium pendukungnya terbentur masalah dana dan sumber daya manusia.

Beberapa museum di Indonesia tercatat sudah mempunyai bidang konservasi dalam struktur organisasinya. Yang relatif besar adalah Museum Nasional Jakarta. Dalam skala kecil, penanganan koleksi yang rusak sudah bisa dilakukan di sini. Penghilangan karat, penyambungan koleksi yang patah, atau pembersihan rutin merupakan pekerjaan sehari-hari para konservator museum. Namun dalam skala besar, seperti memperbaiki fosil manusia purba, keahlian mereka belum sampai ke sana. Masalahnya, untuk menangani artefak seperti itu dibutuhkan peralatan canggih, seperti kamera sinar X, komputer, dan tenaga berkualifikasi.

Diperkirakan jumlah artefak kuno yang memerlukan penanganan konservasi mencapai puluhan ribu buah. Bukan hanya mencakup lukisan, dokumen, naskah, dan kain. Tetapi juga artefak berbahan tanah, kayu, batu, logam, kaca, dan tulang. Sudah tentu harus ada tenaga yang mempunyai spesialisasi dalam bidang-bidang itu dengan dukungan berbagai perangkat kerjanya.

Di Indonesia banyak peninggalan budaya yang tersisa. Sudah seharusnya setiap propinsi memiliki museum atau pusat konservasi. Pemerintah pusat pun harus berupaya menyelenggarakan pendidikan singkat untuk para konservator dari seluruh Indonesia. Dengan demikian kelestarian artefak-artefak kuno lebih terjamin. Bangsa yang besar bukan hanya menghargai sejarahnya, tetapi juga mampu merawat sebaik-baiknya peninggalan bangsanya. (DJULIANTO SUSANTIO)

Senin, 11 Januari 2010

Museum, Etalase Ilmu Pengetahuan


Museum merupakan objek pendidikan sekaligus objek wisata. Museum bukan hanya terdapat di Jakarta, tetapi juga di kota-kota besar dan kecil di seluruh wilayah Indonesia. Ada museum yang gedungnya besar dan megah, ada pula yang kecil macam kamar tidur. Namun sebenarnya besar dan kecilnya museum tidak menjadi masalah.Yang penting museum mampu memberikan segudang informasi bagi kita, terutama para pelajar dan mahasiswa.


Definisi

Umumnya orang awam menganggap museum merupakan gedung atau gudang penyimpanan barang antik. Juga tempat memamerkan barang-barang antik itu. Namun sesungguhnya definisi museum amat luas, sebagaimana dikemukakan oleh Dewan Museum Internasional atau International Council of Museums (ICOM).

Menurut ICOM, yang disebut museum antara lain lembaga-lembaga konservasi, ruang pamer, atau galeri yang secara tetap diadakan oleh perpustakaan dan pusat kearsipan. Selain itu suaka alam, cagar alam, situs arkeologi, situs etnografi, berikut peninggalan arkeologi atau peninggalan bersejarah.

Kalau kebun binatang termasuk museum atau bukan? Menurut ICOM, kebun binatang juga termasuk ke dalam kategori museum. Begitu pula lembaga-lembaga yang memamerkan spesimen-spesimen hidup, seperti suaka margasatwa, kebun raya, taman anggrek, herbarium, akuarium, dan oseanorium.

Museum dalam wujudnya yang lain berupa planetarium dan observatorium. Keduanya adalah tempat untuk melihat benda-benda angkasa. Apapun namanya, museum pada prinsipnya memamerkan segala jenis benda mati dan benda hidup untuk kepentingan masyarakat. Nah, kamu tidak bingung lagi ‘kan kalau definisi museum begitu luas?


Tertutup dan Terbuka

Umumnya museum berupa sebuah gedung atau bangunan, sebagai tempat menyimpan dan memamerkan koleksi. Ini untuk melindungi seluruh koleksi dari pengaruh panas, hujan, dan yang paling penting dari gangguan tangan-tangan jahil manusia. Museum seperti ini diistilahkan museum tertutup.

Ada juga museum yang berada di luar ruangan. Namanya museum terbuka atau museum lapangan. Nama kerennya open air museum atau site museum. Koleksi dalam museum terbuka atau museum lapangan sangat besar, sehingga tidak bisa dipindahkan. Karena itu tetap dilestarikan di halaman, dalam wujud benda cagar budaya. Museum terbuka yang paling dikenal adalah Taman Wisata Candi Borobudur dan Taman Purbakala Nasional Banten Lama.


Jenis Koleksi

Menurut jenis koleksinya museum terbagi dua, yakni museum umum dan museum khusus. Museum umum adalah museum yang koleksinya terdiri atas berbagai jenis objek ilmu pengetahuan dan kesenian. Contoh museum umum adalah Museum Nasional yang koleksinya terdiri atas benda-benda prasejarah, arkeologi, relik sejarah, etnografi, geografi, seni rupa, numismatik, heraldik, dan keramik.

Museum khusus adalah museum yang hanya menyajikan koleksi berupa satu jenis objek ilmu pengetahuan atau kesenian. Contohnya Museum Wayang, Museum Bahari, Museum Keramik, dan Museum Seni Rupa.


Pengelolaan

Dari segi pengelolaannya, museum juga terbagi dua, yaitu museum pemerintah atau museum negeri dan museum swasta atau museum pribadi. Museum pemerintah dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga-lembaga milik pemerintah. Contohnya Museum Nasional (pemerintah pusat), Museum Sejarah Jakarta (pemerintah daerah DKI Jakarta), dan Museum Satria Mandala (TNI).

Museum swasta dikelola oleh yayasan atau keluarga, misalnya Museum Adam Malik, Museum Affandi, Museum Dullah, dan Museum Suteja Neka.


Museum Mobil

Ada lagi yang disebut museum keliling atau museum mobil. Biasanya museum ini berkeliling dari satu tempat ke tempat lain menggunakan mobil yang didesain secara khusus. Meskipun koleksi yang dipamerkan tidak banyak, museum mobil dapat memberikan apresiasi kepada warga untuk mencintai peninggalan-peninggalan masa lalu bangsanya.


Edukasi dan Rekreasi

Museum adalah sebuah lembaga yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tugas utama museum adalah di bidang pengadaan, pengawetan, penelitian, dan penyebaran informasi koleksi kepada masyarakat untuk tujuan pendidikan (edukasi) dan kesenangan (rekreasi).

Meskipun tidak mencari keuntungan, namun mengunjungi museum tetap harus membayar. Biaya termurah untuk memasuki sebuah museum sekitar Rp 500. Ada pula museum yang menggratiskan pengunjungnya, terutama bagi para pelajar, misalnya Museum Uang “Artha Suaka” milik Bank Indonesia. Namun kamu harus datang secara rombongan disertai surat pengantar dari sekolahmu.

Jika mengunjungi sebuah museum, manfaatkanlah waktumu sebaik mungkin. Museum merupakan etalase ilmu pengetahuan dalam barisan depan. Maka sering-seringlah mengunjungi museum, toh tidak ada ruginya. Malah pengetahuan kamu semakin bertambah.

Kita harus meniru para pelajar Amerika dan Jepang. Mereka sering dibawa oleh para guru untuk belajar di museum. Kini mereka menjadi bangsa yang pintar. Kamu juga ingin seperti mereka kan?




Membuat Museum Sekolah

Museum tidak harus berbentuk lembaga formal. Siapa saja boleh mendirikan museum, mengingat tujuan utama museum adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Kalau kamu ingin membuat museum di sekolah, boleh saja. Tentu asalkan kepala sekolah memberi izin. Yang penting ada ruangan dan kemauan.

Kehadiran museum sekolah justru penting karena selama ini boleh dikatakan belum ada sekolah-sekolah di Indonesia yang memiliki museum sendiri. Museum dalam skala kecil merupakan semacam laboratorium pendidikan bagi para guru dan murid.

Seberapapun luasnya ruangan, keberadaan museum bisa disesuaikan di dalamnya. Lantas apa saja yang bisa mengisi museum sekolah? Banyak hal, misalnya foto kepala sekolah. Kemudian bisa guru teladan dan pelajar teladan. Foto bersama para murid yang dilakukan setiap tahun, bisa dijadikan koleksi museum dalam bentuk album.

Kalau sekolahmu berprestasi, seperti menjadi sekolah terbaik, tentu ada piala atau piagam penghargaan. Nah, ini bisa disimpan di dalam museum sekolah. Begitu juga piala-piala hasil berbagai perlombaan atau kejuaraan. Jangan lupa, simpan berbagai jenis seragam sekolahmu di dalam museum. Tentu lengkap dengan topi, dasi, badge, dsb.

Berbagai alat tulis, seperti pensil, penghapus, serutan, dan penggaris bisa pula menjadi koleksi museum sekolah. Lima sampai sepuluh tahun ke depan, pasti ada perkembangan alat tulis. Kita bisa mengetahuinya lewat museum sekolah, lho.

Pokoknya segala hal yang berhubungan dengan sekolahmu dan segala aktivitas belajar-mengajar, bisa mengisi museum sekolah. Mintalah bimbingan pada bapak dan ibu guru.



Dari Museum ke Museum

Di seluruh Indonesia terdapat sekitar 400 museum yang terdata pada Direktorat Permuseuman. Sebagian besar museum berlokasi di Pulau Jawa. Di antara kota-kota besar di Pulau Jawa, museum paling banyak terdapat di Jakarta.

Nah, jika kamu berlibur ke Jakarta, jangan lupa mengunjungi kompleks Taman Mini. Di sana ada beberapa museum yang letaknya berdekatan., misalnya Museum Keprajuritan, Museum Prangko, Museum Pusaka, Museum Transportasi, Museum Olahraga, Museum Pertambangan, Museum Purna Bhakti Pertiwi, dan Museum Telekomunikasi.

Sejumlah museum juga terdapat di wilayah kota tua Jakarta, Jakarta Kota, antara lain Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Bahari, Museum Seni Rupa, dan Museum Keramik. Yang paling penting, kamu harus mengunjungi Museum Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat. Museum Nasional merupakan museum terbesar dan terlengkap di Indonesia.

Jika kamu ingin mengenal lebih dalam tokoh atau pahlawan Indonesia, ada beberapa museum yang patut dikunjungi, yakni Museum Bung Karno (Bengkulu), Museum Bung Hatta (Bukittinggi), Museum Kartini (Jepara), Museum Diponegoro (Magelang), dan Museum Sudirman (Magelang).

Jika ingin mengetahui segala hewan (sudah diawetkan), termasuk fosilnya, kamu bisa mengunjungi Museum Zoologi di Bogor, Pematangsiantar, dan Bukittinggi.

Di Bandung ada Museum Geologi, Museum Asia Afrika, dan Museum Pos. Di Magelang ada Museum Kereta Api dan di Klaten ada Museum Gula.

Museum Jamu ada di Semarang dan Pasuruan, Museum Kretek di Kudus, dan Museum Batik di Pekalongan. Pasti banyak pengetahuan yang kamu peroleh dari sana.

Ingin tahu fosil manusia purba? Nah, Museum Sangiran di Sragen (Jawa Tengah) dan Museum Trinil (Jawa Timur) tempatnya.

Sebagai Kota Budaya, Yogyakarta memiliki beberapa museum, di antaranya Museum Sonobudoyo, Museum Batik, Museum Affandi, Museum Kraton, dan Museum Biologi. Tetangganya, Surakarta, mempunyai Museum Radyapustaka dan Museum Pers.

Bali memiliki sejumlah museum. Yang populer antara lain Museum La Mayeur, Museum Subak, Museum Gianyar, dan Museum Neka. Museum yang paling dikenal di Makasar adalah Museum La Galigo dan Museum Buton. Di wilayah-wilayah lain, jumlah museum tidak banyak. Yang relatif besar adalah museum-museum negeri di tiap propinsi.



Museum Pendidikan

Sejak lama sejumlah museum di Indonesia dicanangkan berfungsi sebagai Museum Pendidikan. Museum Pendidikan didefinisikan sebagai museum yang tujuan utamanya untuk kepentingan studi atau riset para pelajar/mahasiswa. Juga dimaksudkan sebagai alat peraga atau pembantu utama bagi pendidikan formal di sekolah atau perguruan tinggi.

Salah satu museum pendidikan yang berperan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah Museum Anatomi. Museum ini milik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sebagai laboratorium pendidikan bagi mahasiswanya.

Berbeda dari umumnya museum yang kita kenal, koleksi Museum Anatomi FKUI adalah barang-barang yang tergolong mengerikan dan menjijikan di mata orang awam, bahkan mungkin dapat membuat kita merinding atau tidak bisa tidur semalaman. Bayangkan, otak besar, jantung, hati, ginjal, dan janin manusia tersimpan di sini dalam stoples-stoples yang sudah diberi bahan pengawet. Ih ada lagi, foto-foto korban pembunuhan dan mutilasi, itu tuh mayat yang dipotong-potong.

Koleksi lain berupa reproduksi fosil manusia purba, wajah berbagai suku bangsa di Indonesia, dan anatomi bagian-bagian tubuh manusia. Museum Anatomi hanya dibuka untuk umum pada saat dies natalis (perayaan ulang tahun) UI atau FKUI saja.

Berbagai perguruan tinggi lain juga memiliki Museum Pendidikan. Misalnya berjenis-jenis batuan bumi ada di Fakultas Geologi ITB, berjenis-jenis tumbuhan ada di Fakultas Biologi IPB, dan berjenis-jenis peta ada di Fakultas Geografi UGM.

Kamu bisa berkunjung ke sana asalkan ada surat pengantar dari sekolah. Mungkin dengan cara ini kamu akan tertarik pada suatu bidang ilmu pengetahuan. (DJULIANTO SUSANTIO)

Sabtu, 09 Januari 2010

MUSEUM WAYANG: Membludak di Berlin, Sepi di Jakarta


Koleksi benda-benda purbakala, sejarah, seni, dan budaya asal Indonesia banyak terdapat di mancanegara. Salah satunya adalah di Museum Etnologi Dahlem (Berlin), Jerman. Dari 50.000 objek yang berasal dari Asia, sekitar tiga per empatnya merupakan benda-benda budaya dari Indonesia.

Sejak lama Museum Berlin sudah menjadi museum bertaraf internasional dan merupakan tujuan kunjungan wisatawan mancanegara. Museum Berlin terbilang maju pesat karena ditangani sumber daya manusia yang terampil, dibantu perkembangan teknologi yang modern. Kondisi ruangannya begitu bersih dan terpelihara dengan baik. Karena itu pengunjung Museum Berlin selalu membludak bahkan sering kali harus bersabar menunggu giliran antre karcis.

Penataan etalase di museum ini juga sangat rapi dan teratur. Koleksi asal Indonesia yang dipamerkan di sini diperoleh dari hampir semua propinsi, pulau, dan daerah. “Kami memiliki koleksi besar wayang, di antaranya wayang golek, wayang kulit, dan wayang klitik, berikut sejumlah besar topeng dan anyaman,” kata pimpinan museum itu, Dr. Wibke Lobo sebagaimana pernah disiarkan Radio Suara Jerman Siaran Indonesia belum lama ini.

Koleksi-koleksi itu dikumpulkan oleh orang-orang Jerman yang sering berkeliling Indonesia sejak abad ke-19. Awalnya, mereka sangat terpesona akan pertunjukan wayang, lantas mereka banyak membeli boneka wayang dan topeng. Apalagi benda-benda tersebut ringan, mudah diangkut, dan harganya relatif murah. Dengan cara itu koleksi wayang museum kami menjadi lengkap, demikian Lobo.


Adolf Bastian

Sebagian besar koleksi Museum Berlin merupakan milik Adolf Bastian, direktur pertama museum itu. Bastian merupakan seorang ahli antropologi, etnologi, dan dokter (1826-1905). Di kalangan ahli sejarah kebudayaan, Bastian dikenal sebagai seorang ahli tentang Indonesia (Indologi). Nama Indonesia dipercaya pertama kalinya diperkenalkan oleh Bastian.

Bastian banyak berkeliling dunia dan membuat laporan etnografi tentang bangsa-bangsa yang pernah dijumpainya. Dia sering mengunjungi Indonesia bahkan menulis buku tentang Indonesia. Karena tertarik dengan Asia, dia berkeinginan besar untuk mendokumentasikan karya seni dan kebudayaan.

Bastian berpendapat bahwa kebudayaan akan berubah karena pengaruh Barat dan kolonialisasi. Karena itu dia mengumpulkan sebanyak mungkin benda dan objek budaya, termasuk kerajinan tangan untuk mendokumentasikannya.

Menurut Lobo, para kurator museum sangat peduli sekali terhadap keselamatan dan perawatan koleksi. Koleksi-koleksi itu disimpan dalam kondisi iklim dan suhu yang memenuhi syarat. “Staf museum sangat berhati-hati dengan benda itu. Untuk memegangnya saja, mereka menggunakan sarung tangan. Dengan cara itu benda-benda tersebut dapat bertahan sampai ratusan tahun,” cerita Lobo.

Para kurator tidak saja bertanggung jawab terhadap pengadaan dan penelitian koleksi, tetapi juga meluaskan informasi melalui media massa. Setiap tahun Museum Berlin menyelenggarakan pameran tetap tentang Indonesia dan pameran khusus sesuai tema yang hendak dikemukakan.

“Dari segi ilmu museologi, museum bukan hanya tempat penyimpanan barang kuno, namun juga menjadi laboratorium penelitian sejarah budaya. Karena itu banyak kurator Museum Berlin mendalami pengetahuan tentang sejarah dan budaya Indonesia,” ungkap Lobo lagi.


Jakarta

Lain Berlin lain Jakarta. Di Berlin bersih dan rapi. Di Jakarta kotor dan semrawut. Begitulah kira-kira gambaran Museum Wayang Jakarta, yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara, dekat stasiun kereta api Jakarta Kota. Museum yang didirikan pada 1975 itu terkesan kumuh sehingga sedikit didatangi pengunjung.

Sebagai objek pariwisata, banyak kendala dihadapi museum ini. Selain gedungnya kecil yang merupakan peninggalan bangsa Belanda, Museum Wayang tak memiliki areal parkir. Ini yang menyulitkan para pengunjung untuk pergi ke sana, terutama yang membawa kendaraan pribadi.

Namun bersyukur, Museum Wayang cukup ramai didatangi orang pada hari Minggu atau libur manakala ada demo pembuatan wayang, pemutaran video, atau pameran temporer. Biasanya banyak wisatawan mancanegara datang ke sana, yang tentu saja berdampak positif pada pengenalan kesenian wayang.

Saat ini jumlah koleksi Museum Wayang mencapai 5.000 buah, meliputi berbagai jenis wayang dari dalam negeri dan mancanegara. Ditambah berbagai perlengkapan pertunjukan wayang, seperti blencong, gamelan, dan layar. Wayang-wayang mancanegara antara lain berasal dari China, Kamboja, Malaysia, India, Prancis, Belanda, dan Inggris.

Dilihat dari lingkungan, lokasi Museum Wayang juga kurang ideal karena dihimpit kantor dagang. Lokasinya yang tanpa halaman pun membuat debu-debu mudah memasuki ruangan, karena pintu masuk dan jendela persis terletak di tepi jalan raya yang ramai dilalui kendaraan bermotor. Begitu juga angin laut yang lembab di malam hari dan panas terik di siang hari. Cuaca yang terbilang ekstrem ini berperan merusakkan koleksi yang umumnya terbuat dari kain, kulit, kayu, dan bahan-bahan yang mudah rapuh.

Sebagai negara besar yang dikenal memiliki kebudayaan tinggi sejak dulu kala, tentu amat memalukan kalau kita tidak mempunyai museum wayang yang representatif atau berkelas internasional seperti halnya Museum Berlin. Padahal banyak jenis wayang dari berbagai daerah sudah pantas dilestarikan di dalam museum ini. Apalagi wayang sudah dianggap sebagai warisan milik dunia oleh UNESCO tahun 2004 lalu.

Sudah seharusnya pembenahan Museum Wayang dilakukan secepat mungkin, antara lain melengkapinya dengan laboratorium konservasi untuk merawat dan memperbaiki koleksi wayang yang rusak atau patah. Jangan sampai kita harus belajar wayang atau melihat wayang ke negeri orang, yang justru lebih peduli terhadap kekayaan budaya milik bangsa Indonesia.

Kini selain di Berlin (Jerman), beberapa negara seperti AS, Belanda, Inggris, Prancis, Jepang, dan Australia juga memiliki museum wayang. Bahkan di sana terdapat banyak perangkat gamelan. Ini karena para mahasiswa yang memilih jurusan seni Indonesia relatif banyak jumlahnya. Lengkapnya lagi, mereka membentuk semacam perkumpulan penggemar wayang. Museum Wayang terbesar di mancanegara antara lain adalah Museum of Mankind dan Smithsonian Institute (AS).

Kita sendiri yang harus melestarikan wayang Indonesia, misalnya membuat program khusus jangka panjang. Program ini dikaitkan dengan pariwisata Indonesia sehingga promosinya lebih mudah. (DJULIANTO SUSANTIO)

Jumat, 08 Januari 2010

Mengapa Museum Sering Kebobolan?


Untuk kesekian kalinya koleksi museum dicuri orang. Kini yang menjadi korban adalah arca Buddha peninggalan Kerajaan Sriwijaya milik Museum Balaputra Dewa Palembang. Sebagaimana yang lalu-lalu, kehilangan koleksi museum menjadi “heboh” karena pemberitaan media massa. Kabar terakhir menyebutkan koleksi tersebut telah ditemukan kembali.

Sebelumnya kejadian serupa antara lain pernah menimpa Museum Radya Pustaka Solo. Pelakunya kemudian diketahui adalah orang museum sendiri, sementara pembeli barang-barang tersebut adalah seorang pengusaha beken, Hashim Djojohadikusumo. Kita masih belum tahu apakah motif pencurian di Museum Balaputra Dewa sama dengan motif pencurian di Museum Radya Pustaka ataukah berbeda.

Yang jelas, masalah yang sama selalu dan tetap berulang tanpa ada perbaikan. Para pengambil keputusan tidak ada bosan-bosannya mengatakan “akan menjadikan kasus itu sebagai pelajaran berharga”. Mengingat kebanyakan museum di tanah air kita adalah milik pemerintah, tentu saja pemerintah—baik pusat maupun daerah—yang harus bertanggung jawab.

Tidak dimungkiri, alasan klasik dan klise selalu diumbar-umbar pengelola museum: kurang dana dan kurang tenaga. Begitu juga alasan pemerintah: anggaran untuk bidang kebudayaan dalam APBN/APBD selalu diciutkan dari tahun ke tahun. Malah sering ditambah: prioritas sedang ditujukan untuk pembenahan dunia pendidikan. Bukankah museum juga merupakan sarana pendidikan dan pembelajaran untuk generasi kini dan generasi mendatang?

Sejak lama museum selalu dicanangkan menjadi objek yang bersifat rekreatif edukatif. Artinya, selain ditujukan untuk kepentingan pariwisata, museum dijadikan sebagai etalase ilmu pengetahuan untuk segala lapisan masyarakat.

Negara kita adalah negara kaya. Selain artefak-artefak arkeologi, kita pun memiliki objek-objek budaya lain. Banyak objek sebenarnya pantas dibuatkan museum karena museum seperti itu belum ada di sini. Namun itu tadi, kendala dana dan tenaga sering dituding menjadi biang keladi minimnya perhatian pemerintah kepada museum.

Konon, di Indonesia hanya terdapat kurang dari 400 museum. Itu pun 11 di antaranya telah tutup tahun 2008 karena masalah dana. Berapa banyak persentasenya dibandingkan dengan jumlah penduduk dan kekayaan budaya yang kita miliki, tentu kita bisa menerka-nerkanya sendiri. Bandingkan dengan Belanda, misalnya, yang mampu membangun ribuan museum. Bahkan becak yang dikenal sebagai kendaraan tradisional di Indonesia, justru lebih gampang dijumpai di sana daripada di negara asalnya.


Lingkaran setan

Pencurian berbagai koleksi museum memang ibarat “lingkaran setan”. Tahun 1970-an koleksi numismatik Museum Nasional pernah digondoli penjahat besar Kusni Kasdut. Tahun 1980-an tujuh potong keramik antik dan langka, juga milik Museum Nasional, raib entah ke mana. Tahun 1990-an sejumlah lukisan, lagi-lagi milik Museum Nasional, tahu-tahu sudah berada di tangan kolektor Singapura.

Pembahasan pun ramai di mana-mana. Berbagai pejabat berwenang dan sejumlah tokoh, ikut berbicara. Begitu pula terhadap kasus Museum Radya Pustaka. Peran Hashim Djojohadikusumo dan Hugo Krueger banyak disorot. Karena apa? Hashim mengaku membeli barang-barang itu dari Krueger di luar negeri. Tentu yang menjadi persoalan adalah mengapa barang-barang curian itu bisa sampai di sana?

Lemahnya mental pegawai museum dan aparat terkait sering disalahkan. Sampai-sampai ketidakcakapan pemerintah tak luput dari gunjingan.

Metafora selalu mengatakan bahwa benda-benda arkeologi adalah harta yang tidak ternilai harganya. Artinya, semua benda arkeologi tidak bisa diukur dengan uang karena nilai ilmu pengetahuannya jauh lebih penting dari itu.

Tanpa bermaksud mendukung pencurian yang melanggar hukum itu, kita tentu akan bertanya, “Benarkah arca-arca tersebut dalam keadaan yang lebih baik dan aman jika berada di tangan museum dan pemerintah?” Seorang rekan arkeolog pernah merasa jengkel dan rada mengolok. “Kalau Museum Nasional dan Museum Sejarah Jakarta dijadikan patokan bagi kualitas museum-museum di Indonesia, maka bisa dipastikan museum adalah tempat yang mengerikan bagi warisan-warisan arkeologi. Betapa banyak koleksi museum berada dalam kondisi yang aus dan berjamur, terlihat seperti tak terawat sama sekali,” katanya.

Jika demikian keadaannya, tentu saja akan lebih baik bila koleksi-koleksi tersebut dicuri lalu dibeli oleh kolektor pribadi yang mampu merawat koleksi-koleksi itu dengan lebih baik. Pencurian benda-benda masa lampau yang dilindungi hukum memang salah. Namun menelantarkan benda tersebut dengan alasan apapun adalah tindakan yang lebih salah.

Kembali ke soal kualitas museum, mungkin ada benarnya kalau orang mengatakan banyak gedung museum di negeri kita ibarat “kandang ayam”. Selain kondisi bangunannya yang terlihat gampang ambruk, situasi dalamnya pun tak ubahnya peribahasa “mati segan, hidup tak mau”. Pencahayaan selalu redup, lemari pajangan keropos di sana-sini, kotak-kotak informasi masih terlalu jadul, tembok dan lantai sangat kusam, begitulah yang sering dikeluhkan pengunjung. Ironisnya, kehidupan museum hanya tergantung dari karcis masuknya yang hanya sebesar ratusan rupiah per pengunjung. Sudah jelas untuk biaya operasional sehari-hari saja tidak cukup.

Kalau kualitas museum di Jakarta saja masih banyak dipertanyakan, tentu kondisi museum di daerah jauh lebih buruk. Padahal justru kekayaan budaya di daerah jauh lebih banyak daripada di Jakarta.

Jadi sudah saatnya pemerintah memperhatikan kondisi museum, jangan ditunda-tunda lagi. Museum harusnya menjadi tempat yang paling aman untuk menyimpan harta karun bangsa. Kondisi fisik harus benar-benar diperhatikan, misalnya melengkapi museum dengan kamera pengintai, alarm, dan pintu otomatis. Kondisi non-fisik pun tidak boleh ditinggalkan. Pegawai museum kan manusia, tentu memerlukan kehidupan yang layak.

Kita harus yakin, museum yang baik pasti akan dicari orang. Karena apa? Museum memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai objek pariwisata dan sebagai objek pendidikan. Yang kini terlihat sungguh membuat hati miris, museum hanya sebagai gudang peninggalan barang-barang kuno sehingga terkesan angker.

Marilah kita mulai membenahi museum. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memperhatikan sejarahnya, tentu lewat museum. Lewat museum kita bisa berkaca tentang kecemerlangan bangsa Indonesia di masa lampau.

Mudah-mudahan masyarakat dan pemerintah akan segera mampu memperlakukan museum kita, termasuk benda-benda koleksinya, secara lebih “manusiawi”. Jika sudah demikian, itulah saat yang paling pantas untuk mengutuk pencurian dan transaksi ilegal benda-benda cagar budaya milik negara. Kalau meminjam slogan pemimpin negeri, “bersama kita bisa”. Jadi kalau ada pertanyaan mengapa museum kita sering kebobolan, untuk sementara ini jawabnya adalah karena mental dan dana. (DJULIANTO SUSANTIO)


Kemajuan Museum Tergantung Keprofesionalan


Tulisan di beberapa media tentang Museum Nasional yang sepi pengunjung dan masih perlu gedung baru semakin menambah panjang deretan persoalan museum di Indonesia. Sadar atau tidak sadar, sebenarnya jumlah koleksi Museum Nasional yang diatas 100.000 buah, menjadikan museum itu sebagai salah satu museum terkaya di dunia. Koleksi-koleksi tersebut dikumpulkan sejak abad ke-18 dan berasal dari zaman prasejarah hingga kolonial.

Sebagai museum terbesar dan tertua di Indonesia, Museum Nasional termasuk kategori museum umum karena koleksinya terdiri atas berbagai jenis objek ilmu pengetahuan dan kesenian. Koleksi tertua berasal dari zaman prasejarah, antara lain fosil, gerabah, kapak batu, kulit kerang, manik-manik, dan nekara perunggu. Sementara koleksi yang tergolong adikarya berupa keramik-keramik asing, terutama dari Cina.

Koleksi arkeologi juga relatif banyak di sana. Sebagian terbesar berasal dari zaman klasik, abad ke-5 hingga ke-16, antara lain berupa arca, ornamen bangunan, prasasti, mata uang, alat musik, dan alat upacara. Bahkan dilengkapi dengan ruang khasanah yang khusus memamerkan benda-benda berharga dari emas.

Koleksi lain berupa benda-benda numismatik dan heraldik. Koleksi numismatik terdiri atas mata uang yang pernah beredar di kepulauan Nusantara, termasuk uang-uang dari mancanegara. Koleksi heraldik berupa tanda jasa atau lambang dari masa prasejarah hingga abad ke-20.

Koleksi relik sejarah, meskipun sedikit, antara lain berupa prasasti, mebel, lampu antik, gerabah, meriam, dan keramik dari abad ke-16 hingga ke-19.

Museum Nasional pun memiliki koleksi geografi yang umumnya berupa peta-peta kuno. Sedikit jumlahnya, tetapi mampu memberikan informasi detil tentang kota-kota kuno pada waktu itu.

Sebagai bangsa yang multietnis, Museum Nasional menyajikan koleksi etnografi, berupa benda-benda budaya dari berbagai sukubangsa di Indonesia. Museum Nasional juga memiliki koleksi seni rupa. Karya pelukis Raden Saleh dan Affandi, merupakan koleksi bersejarah yang dipamerkan di sini.


Banyak

Banyaknya koleksi yang dimiliki Museum Nasional, menjadikan museum ini terkesan sempit dan kumuh. Apalagi gedung yang ditempatinya sekarang merupakan warisan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Meskipun kini sudah memiliki gedung baru bertingkat, namun kesan sempit masih sangat terasa. Idealnya, Museum Nasional harus bertingkat sepuluh. Mengingat Museum Nasional masih mempunyai lahan kosong yang cukup luas, tentu sekarang harus dipikirkan bagaimana mencari dana untuk membangun gedung baru. Mengharapkan APBN atau APBD saja, tentu tak bakalan mencukupi.

Dengan ruangan yang sangat lapang, paling tidak peluang untuk menata koleksi fleksibel sekali. Sebagai museum yang bertaraf internasional, seharusnya setiap tingkat diisi dengan satu jenis koleksi. Misalnya lantai pertama untuk koleksi arkeologi, lantai kedua untuk koleksi numismatik, lantai ketiga untuk koleksi keramik, dst.

Ruangan-ruangan lainnya bisa digunakan untuk perpustakaan, laboratorium konservasi, gudang penyimpanan, dan aula serbaguna. Sarana pendukung sangat penting, terutama untuk merawat atau memperbaiki benda-benda koleksi yang rusak.

Sebenarnya masalah Museum Nasional bukan hanya gedung baru. Yang penting adalah sumber daya manusianya. Etos kerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) mungkin menjadi penyebab mengapa kurator-kurator museum di Indonesia belum berkualitas internasional.

Bandingkan dengan British Museum di Inggris, contohnya. Hasil kebudayaan apa yang paling dikenal di Inggris? Kecuali Stonehenge, Inggris nyaris tidak memiliki peninggalan budaya yang berarti. Namun British Museum menjadi sangat berarti karena mengoleksi benda-benda budaya berkelas dunia asal Mesir, Irak, Yunani, Romawi, dan Indonesia.

Museum Sejarah Alam-nya begitu populer. Para pembuat film dokumenter seperti Discovery Channel dan National Geographic Channel, hampir selalu mengambil referensi dari British Museum. Bahkan British Museum memiliki anggaran untuk melakukan ekskavasi arkeologi di Mesir, Irak, dan berbagai negara lain.

Berbagai ensiklopedia yang ditulis kurator British Museum sangat populer di mana-mana. Manajemen pengelolaannya selalu menjadi inspirasi bagi pengelola museum di negara-negara berkembang.

Pengelolaan British Museum sudah benar-benar profesional. Mereka memperlakukan benda-benda budaya milik bangsa lain seperti milik bangsanya sendiri. Mereka merawatnya dengan hati-hati dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Contoh lain adalah Belanda dan Prancis. Di sana tradisi mengunjungi museum sudah membudaya hebat. Jangan heran kalau untuk masuk museum saja, orang harus rela antre berpuluh-puluh meter panjangnya. Padahal harga tiket masuk di sana mencapai Rp 100.000 jika dikurskan dengan rupiah.

Negara tetangga kita, Singapura, sudah lama mengandalkan museum sebagai daya tarik pariwisata. Singapura memang tidak mempunyai sumber daya alam atau sumber daya budaya yang hebat seperti Indonesia. Namun kelebihannya, mereka memiliki sumber daya manusia yang handal sehingga mampu menjual potensi museum.

Boleh dikatakan Museum Nasional Singapura kalah jauh dibandingkan kualitas dan kuantitas Museum Nasional Jakarta. Namun penataannya mengagumkan, pencahayaan display-nya bagus, promosinya luas, dan penyediaan berbagai fasilitasnya meyakinkan. Selain telepon bersuara, museum dilengkapi komputer layar sentuh dan perangkat audio-visual untuk membantu pengunjung. Dalam setahun jumlah pengunjung Museum Nasional Singapura mencapai tujuh juta orang, berkali-kali lipat dari Museum Nasional Jakarta. Sebagai perbandingan tiket masuk di sana mencapai Rp 30.000, sementara di sini hanya Rp 750.


Kontradiksi

Jelas ada yang salah atau kurang dari segi pengelolaan Museum Nasional Jakarta. Sepi pengunjung dan tiket murah merupakan kontradiksi yang sulit diterima akal sehat. Namun bila dikaji, akar masalahnya sebenarnya bukan tiket murah. Biaya transportasi, biaya makan, dan biaya-biaya tak terduga sering menjadi bahan pertimbangan masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah.

Keengganan masyarakat untuk berkunjung ke museum juga disebabkan faktor internal museum, seperti label koleksi kurang informatif, pencahayaan ruangan sangat minim, fasilitas umum kotor dan bau, pelayanan buruk, dan masih banyak lagi.

Untuk memajukan museum dan masyarakat, sebaiknya tirulah Jepang. Secara periodik para siswa dibimbing para guru untuk belajar dari museum. Mereka beranggapan museum adalah etalase ilmu pengetahuan dalam barisan paling depan. Bentuk museum di sana bukan cuma gedung, tetapi juga mobil keliling dengan segala kecanggihan teknologinya. Orang percaya kalau bangsa Jepang dapat maju pesat karena tiga hal, yakni guru, museum, dan buku.

Susahnya kita di sini, Museum Nasional saja sebagai museum tertua, terlengkap, dan terbesar selalu terbentur masalah dana. Tentu museum-museum lain, terutama yang berlokasi di luar Jakarta, lebih parah keadaannya. Apalagi sebagian besar museum dikelola pemerintah pusat dan pemerintah daerah, yang otomatis anggarannya tergantung dari APBN atau APBD. Percayakah Anda kalau di Indonesia ada beberapa museum yang hanya dikunjungi puluhan orang per tahunnya? Bahkan hanya belasan orang, hal itu kenyataannya ada.

Di sejumlah negara kemajuan suatu museum tergantung pada keprofesionalan direktur museum. Dia dituntut aktif, inovatif, dan kreatif. Mudah-mudahan di Indonesia ada SDM seperti itu, sehingga museum-museum tidak lagi mengeluh sepi pengunjung. (DJULIANTO SUSANTIO)


Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Kontak