Hotel des Indes Menjadi Duta Merlin
Ada berbagai pandangan melihat foto Gedung Harmonie pada Kompas beberapa waktu lalu. Ada yang menyayangkan pembongkaran gedung bersejarah itu. Ada yang membenci pihak yang menghancurkan gedung itu. Ada pula yang menyesalkan mengapa masyarakat tidak menentang pembongkaran itu. Tentu masih ada pandangan-pandangan lain terhadap kasus itu.
Seperti kata pepatah, sesal kemudian tidak berguna. Akibatnya sekarang kita harus membayar mahal, generasi muda atau anak cucu kita hanya bisa menyaksikan Gedung Harmonie melalui dokumentasi. Tidak bisa melihat lagi bangunan aslinya.
Kontroversi
Gedung Harmonie (lengkapnya Societeit de Harmonie) dibongkar pada Maret 1985. Pembongkarannya menjadi kontroversi karena lahannya digunakan untuk perluasan areal parkir Kantor Sekretariat Negara dan pelebaran jalan di sampingnya.
Sebenarnya rencana pembongkaran gedung itu pernah ditentang keras kalangan arkeolog, sejarawan, budayawan, dan arsitek. Namun apa mau dikata karena para perencana pembangunan tidak mempunyai apresiasi sejarah. Bahkan golongan konservasionis hampir selalu dicap “menentang kebijakan pemerintah dalam bidang pembangunan” karena “pembangunan itu ditujukan untuk kemakmuran rakyat banyak”.
Gedung Harmonie atau Harmonie Club dulunya merupakan tempat berkumpul masyarakat Hindia Belanda. Pendirian gedung itu dipelopori oleh Reinier de Klerk tahun 1776, dimaksudkan agar gaya hidup orang-orang Belanda tidak terlalu urakan.
Sebelumnya, di sepanjang Kali Ciliwung banyak berdiri kedai minum. Di situ sering terjadi perkelahian di antara orang-orang Belanda karena mereka senang mabuk-mabukan.
Awalnya, banyak orang mengajukan keberatan atas gagasan Klerk. Namun akhirnya tempat yang diinginkan terlaksana di Jalan Pintu Besar Selatan sekarang. Suatu saat Gubernur Jenderal Daendels (1808) menganggap bahwa gedung itu perlu dipindahkan karena keberadaannya sangat jorok. Maksud lain Daendels adalah agar masyarakat bersedia tinggal agak ke pinggir kota. Hal ini dipandangnya bermanfaat sekali untuk menghirup udara yang lebih segar. Waktu itu yang disebut kota Batavia kira-kira batasnya hingga Jalan H. Juanda sekarang. Mulai Jalan Veteran ke arah selatan sudah termasuk luar kota.
Karena pembangunan gedung baru memerlukan dana besar, maka Daendels meminta bantuan Balai Harta Peninggalan. Agar uang semakin terkumpul, Daendels pun memerintahkan semua pegawai negeri, militer maupun sipil, harus menjadi anggota societeit yang baru itu. Ketika Daendels keburu kembali ke Belanda (1811), maka pembangunan gedung agak tersendat. Begitu pula sewaktu jabatan Gubernur Jenderal dipegang penggantinya, Janssens.
Gubernur Jenderal Inggris Raffles lah yang kemudian memberikan perhatian kepada kelanjutan pembangunan gedung. Bahkan Raffles membukanya secara resmi pada 18 Januari 1815.
Gedung Harmonie begitu mentereng dan bergengsi pada zamannya. Di dalamnya terdapat ruang marmer yang luas dengan tiang-tiang indah, lampu-lampu kristal yang bergelantungan, cermin dinding, dan patung-patung perunggu. Gedungnya megah dan kokoh, ditandai tulisan HARMONIE di bagian tengah. Di dalam gedung juga terdapat sejumlah meja biliar. Hanya orang-orang Eropa dari kelas atas boleh menjadi anggota perkumpulan. Gedung Harmonie secara sinis sering disebut Jenewerpaleis atau Gin Palace (Istana Jenewer). Jenewer atau gin adalah nama sejenis minuman keras.
Fungsi lain gedung itu adalah untuk mengakrabkan pejabat Belanda-Inggris. Banyak pesta makan dan pesta dansa diselenggarakan di sini. Suasana teramai adalah saat makan tengah malam sambil minum anggur di bawah sinar bulan di teras yang ditanami bunga-bunga. Konser musik pernah beberapa kali digelar. Begitu pun kegiatan pasar malam.
Pesta paling meriah berlangsung 18 Januari 1940 untuk menyambut ulang tahun ke-125 perkumpulan tersebut. Pesta peringatan 250 tahun kota Batavia pada 29 Mei 1869 pernah juga berlangsung di sini.
Selepas kemerdekaan kita hanya memperoleh sedikit informasi tentang gedung itu. Ironisnya, informasi tersebut berasal dari sejarawan AS Willard A. Hanna. “Sekarang jendela-jendela gedung itu tertutup dan gedungnya sendiri tidak dikunjungi orang lagi. Beberapa tahun lalu pernah dibuka kembali untuk dipakai sebagai pusat pariwisata. Dan pernah dibicarakan orang bahwa gedung itu diubah menjadi suatu restoran mewah dan klub malam, tetapi pemerintah tidak setuju dan perusahaan swasta tidak dapat mengambil prakarsa,” demikian Hanna (Hikayat Jakarta, hal. 256).
Dikatakan pula, “Tidak ada orang yang mau mengambil risiko dengan menanam modal pada Gedung Harmonie yang sudah tua itu, sebagaimana telah dilakukan oleh seorang China yang mempunyai tangan dingin dan pandangan tajam ke hari depan, dengan membuka Gedung Oasis yang ultra mewah di Jalan Raden Saleh”.
Tahun 1970-an hingga 1980-an Gedung Harmonie dipakai sebagai kantor Gabungan Importir Nasional Indonesia. Setelah itu namanya tenggelam, bahkan gedungnya lenyap dari muka bumi.
Hotel des Indes
Gedung Harmonie bukanlah satu-satunya bangunan bersejarah yang dibongkar dengan dalih “demi pembangunan”. Sebelumnya, pada 1971, pihak swasta atas izin pemerintah pusat menghancurkan Hotel des Indes.
Hotel des Indes terletak di Jalan Gajah Mada, beberapa ratus meter dari Gedung Harmonie. Di bekas lokasinya kemudian berdiri pusat perdagangan megah pada zamannya, Duta Merlin.
Banyak orang menganggap Hotel des Indes sejajar dengan Hotel Raffles di Singapura. Hanya bedanya, Hotel Raffles tetap lestari hingga sekarang dan menjadi pilihan utama tamu-tamu eksklusifnya.
Seperti halnya Gedung Harmonie, peranan Hotel des Indes dalam sejarah kolonial amat besar. Perundingan Indonesia-Belanda pernah beberapa kali diadakan di sini.
Bagian hotel yang dianggap tertua adalah dependance atau paviliun sebelah selatan yang biasanya dipakai untuk resepsi atau pameran. Sebelum menjadi paviliun, bangunan itu merupakan rumah peristirahatan Moenswijk. Berasal dari nama pemilik pertama gedung itu, Adriaan Moens, seorang pejabat VOC yang kaya raya.
Sebagian besar tanah hotel merupakan milik Reinier de Klerk Pada 1774 Klerk menjual tanah dan rumah di atasnya kepada C. Postmans. Pada 1778 beralih lagi kepada seorang pemilik baru, keluarga G.J. van der Parra. Setelah beberapa kali berganti pemilik, pada 1824 rumah itu dibeli oleh pemerintah dari D.J. Papet.
Selanjutnya pada 1828 rumah itu dibeli oleh dua pengusaha perhotelan Prancis, A. Chaulan dan J.J. Didero. Awalnya, bekas rumah tadi dijadikan Hotel Chaulan, kemudian Hotel de Provence (1835). Manajemen baru di bawah pimpinan C. Denninghoff menggantinya menjadi Hotel Rotterdamsch (1854).
Hotel des Indes diresmikan pada 1 Mei 1856. Pada 1888 hotel itu beralih ke pemilik baru, Jacob Lugt. Lugt mulai memperluas hotel secara besar-besaran dengan membeli tanah-tanah di sekitarnya. Namun karena terlalu berani berspekulasi Lugt kesulitan keuangan (1897).
Sejak itu Hotel des Indes dijadikan perseroan terbatas dan mulai dilakukan perluasan. Pada 1930-an sampai 1950-an Hotel des Indes merupakan hotel mewah di Jakarta.
Peranannya semakin menurun ketika pemerintah Indonesia mengambil alih hotel tersebut dan mengganti namanya menjadi Hotel Duta Indonesia. Ketika itu hotel berfungsi menampung pegawai negeri yang tidak memperoleh perumahan. Setelah itu namanya semakin tenggelam, terlebih ketika berdiri Hotel Indonesia di pusat kota Jakarta.
Dihitung-hitung Hotel des Indes bertahan selama 115 tahun, sementara Gedung Harmonie 170 tahun. Keduanya telah mendunia karena peranannya dalam sejarah Indonesia. Namanya pun menjadi bahan pembicaraan pelestari-pelestari sejarah masa sekarang karena “tidak berdaya menghadapi modernisasi”. (DJULIANTO SUSANTIO)
Ada berbagai pandangan melihat foto Gedung Harmonie pada Kompas beberapa waktu lalu. Ada yang menyayangkan pembongkaran gedung bersejarah itu. Ada yang membenci pihak yang menghancurkan gedung itu. Ada pula yang menyesalkan mengapa masyarakat tidak menentang pembongkaran itu. Tentu masih ada pandangan-pandangan lain terhadap kasus itu.
Seperti kata pepatah, sesal kemudian tidak berguna. Akibatnya sekarang kita harus membayar mahal, generasi muda atau anak cucu kita hanya bisa menyaksikan Gedung Harmonie melalui dokumentasi. Tidak bisa melihat lagi bangunan aslinya.
Kontroversi
Gedung Harmonie (lengkapnya Societeit de Harmonie) dibongkar pada Maret 1985. Pembongkarannya menjadi kontroversi karena lahannya digunakan untuk perluasan areal parkir Kantor Sekretariat Negara dan pelebaran jalan di sampingnya.
Sebenarnya rencana pembongkaran gedung itu pernah ditentang keras kalangan arkeolog, sejarawan, budayawan, dan arsitek. Namun apa mau dikata karena para perencana pembangunan tidak mempunyai apresiasi sejarah. Bahkan golongan konservasionis hampir selalu dicap “menentang kebijakan pemerintah dalam bidang pembangunan” karena “pembangunan itu ditujukan untuk kemakmuran rakyat banyak”.
Gedung Harmonie atau Harmonie Club dulunya merupakan tempat berkumpul masyarakat Hindia Belanda. Pendirian gedung itu dipelopori oleh Reinier de Klerk tahun 1776, dimaksudkan agar gaya hidup orang-orang Belanda tidak terlalu urakan.
Sebelumnya, di sepanjang Kali Ciliwung banyak berdiri kedai minum. Di situ sering terjadi perkelahian di antara orang-orang Belanda karena mereka senang mabuk-mabukan.
Awalnya, banyak orang mengajukan keberatan atas gagasan Klerk. Namun akhirnya tempat yang diinginkan terlaksana di Jalan Pintu Besar Selatan sekarang. Suatu saat Gubernur Jenderal Daendels (1808) menganggap bahwa gedung itu perlu dipindahkan karena keberadaannya sangat jorok. Maksud lain Daendels adalah agar masyarakat bersedia tinggal agak ke pinggir kota. Hal ini dipandangnya bermanfaat sekali untuk menghirup udara yang lebih segar. Waktu itu yang disebut kota Batavia kira-kira batasnya hingga Jalan H. Juanda sekarang. Mulai Jalan Veteran ke arah selatan sudah termasuk luar kota.
Karena pembangunan gedung baru memerlukan dana besar, maka Daendels meminta bantuan Balai Harta Peninggalan. Agar uang semakin terkumpul, Daendels pun memerintahkan semua pegawai negeri, militer maupun sipil, harus menjadi anggota societeit yang baru itu. Ketika Daendels keburu kembali ke Belanda (1811), maka pembangunan gedung agak tersendat. Begitu pula sewaktu jabatan Gubernur Jenderal dipegang penggantinya, Janssens.
Gubernur Jenderal Inggris Raffles lah yang kemudian memberikan perhatian kepada kelanjutan pembangunan gedung. Bahkan Raffles membukanya secara resmi pada 18 Januari 1815.
Gedung Harmonie begitu mentereng dan bergengsi pada zamannya. Di dalamnya terdapat ruang marmer yang luas dengan tiang-tiang indah, lampu-lampu kristal yang bergelantungan, cermin dinding, dan patung-patung perunggu. Gedungnya megah dan kokoh, ditandai tulisan HARMONIE di bagian tengah. Di dalam gedung juga terdapat sejumlah meja biliar. Hanya orang-orang Eropa dari kelas atas boleh menjadi anggota perkumpulan. Gedung Harmonie secara sinis sering disebut Jenewerpaleis atau Gin Palace (Istana Jenewer). Jenewer atau gin adalah nama sejenis minuman keras.
Fungsi lain gedung itu adalah untuk mengakrabkan pejabat Belanda-Inggris. Banyak pesta makan dan pesta dansa diselenggarakan di sini. Suasana teramai adalah saat makan tengah malam sambil minum anggur di bawah sinar bulan di teras yang ditanami bunga-bunga. Konser musik pernah beberapa kali digelar. Begitu pun kegiatan pasar malam.
Pesta paling meriah berlangsung 18 Januari 1940 untuk menyambut ulang tahun ke-125 perkumpulan tersebut. Pesta peringatan 250 tahun kota Batavia pada 29 Mei 1869 pernah juga berlangsung di sini.
Selepas kemerdekaan kita hanya memperoleh sedikit informasi tentang gedung itu. Ironisnya, informasi tersebut berasal dari sejarawan AS Willard A. Hanna. “Sekarang jendela-jendela gedung itu tertutup dan gedungnya sendiri tidak dikunjungi orang lagi. Beberapa tahun lalu pernah dibuka kembali untuk dipakai sebagai pusat pariwisata. Dan pernah dibicarakan orang bahwa gedung itu diubah menjadi suatu restoran mewah dan klub malam, tetapi pemerintah tidak setuju dan perusahaan swasta tidak dapat mengambil prakarsa,” demikian Hanna (Hikayat Jakarta, hal. 256).
Dikatakan pula, “Tidak ada orang yang mau mengambil risiko dengan menanam modal pada Gedung Harmonie yang sudah tua itu, sebagaimana telah dilakukan oleh seorang China yang mempunyai tangan dingin dan pandangan tajam ke hari depan, dengan membuka Gedung Oasis yang ultra mewah di Jalan Raden Saleh”.
Tahun 1970-an hingga 1980-an Gedung Harmonie dipakai sebagai kantor Gabungan Importir Nasional Indonesia. Setelah itu namanya tenggelam, bahkan gedungnya lenyap dari muka bumi.
Hotel des Indes
Gedung Harmonie bukanlah satu-satunya bangunan bersejarah yang dibongkar dengan dalih “demi pembangunan”. Sebelumnya, pada 1971, pihak swasta atas izin pemerintah pusat menghancurkan Hotel des Indes.
Hotel des Indes terletak di Jalan Gajah Mada, beberapa ratus meter dari Gedung Harmonie. Di bekas lokasinya kemudian berdiri pusat perdagangan megah pada zamannya, Duta Merlin.
Banyak orang menganggap Hotel des Indes sejajar dengan Hotel Raffles di Singapura. Hanya bedanya, Hotel Raffles tetap lestari hingga sekarang dan menjadi pilihan utama tamu-tamu eksklusifnya.
Seperti halnya Gedung Harmonie, peranan Hotel des Indes dalam sejarah kolonial amat besar. Perundingan Indonesia-Belanda pernah beberapa kali diadakan di sini.
Bagian hotel yang dianggap tertua adalah dependance atau paviliun sebelah selatan yang biasanya dipakai untuk resepsi atau pameran. Sebelum menjadi paviliun, bangunan itu merupakan rumah peristirahatan Moenswijk. Berasal dari nama pemilik pertama gedung itu, Adriaan Moens, seorang pejabat VOC yang kaya raya.
Sebagian besar tanah hotel merupakan milik Reinier de Klerk Pada 1774 Klerk menjual tanah dan rumah di atasnya kepada C. Postmans. Pada 1778 beralih lagi kepada seorang pemilik baru, keluarga G.J. van der Parra. Setelah beberapa kali berganti pemilik, pada 1824 rumah itu dibeli oleh pemerintah dari D.J. Papet.
Selanjutnya pada 1828 rumah itu dibeli oleh dua pengusaha perhotelan Prancis, A. Chaulan dan J.J. Didero. Awalnya, bekas rumah tadi dijadikan Hotel Chaulan, kemudian Hotel de Provence (1835). Manajemen baru di bawah pimpinan C. Denninghoff menggantinya menjadi Hotel Rotterdamsch (1854).
Hotel des Indes diresmikan pada 1 Mei 1856. Pada 1888 hotel itu beralih ke pemilik baru, Jacob Lugt. Lugt mulai memperluas hotel secara besar-besaran dengan membeli tanah-tanah di sekitarnya. Namun karena terlalu berani berspekulasi Lugt kesulitan keuangan (1897).
Sejak itu Hotel des Indes dijadikan perseroan terbatas dan mulai dilakukan perluasan. Pada 1930-an sampai 1950-an Hotel des Indes merupakan hotel mewah di Jakarta.
Peranannya semakin menurun ketika pemerintah Indonesia mengambil alih hotel tersebut dan mengganti namanya menjadi Hotel Duta Indonesia. Ketika itu hotel berfungsi menampung pegawai negeri yang tidak memperoleh perumahan. Setelah itu namanya semakin tenggelam, terlebih ketika berdiri Hotel Indonesia di pusat kota Jakarta.
Dihitung-hitung Hotel des Indes bertahan selama 115 tahun, sementara Gedung Harmonie 170 tahun. Keduanya telah mendunia karena peranannya dalam sejarah Indonesia. Namanya pun menjadi bahan pembicaraan pelestari-pelestari sejarah masa sekarang karena “tidak berdaya menghadapi modernisasi”. (DJULIANTO SUSANTIO)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar