Pengumuman


Blog ini tidak diperbarui atau posting artikel lagi. Selanjutnya silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Jumat, 26 Februari 2010

Profesi Konservator, Langka Karena Dana


Memelihara atau merawat benda-benda seni kuno, relatif sulit dilakukan orang. Banyak faktor yang menyebabkan benda-benda lama butuh perhatian lebih. Selain cuaca yang ekstrem, seperti sering diterpa angin, sinar matahari, dan hujan, faktor lain berasal dari pengaruh biologis, kimiawi, dan dari dalam benda itu sendiri. Arca-arca batu pada candi yang berlumut dan berjamur, naskah-naskah kuno yang dimakan kutu, kayu-kayu antik yang diserang rayap, atau artefak-artefak logam yang dipenuhi karat, menandakan bahwa benda-benda masa lalu tidak pernah tahan terhadap alam dan organisme-organisme perusak. Kerusakan akan semakin parah apabila benda-benda itu semakin tua umurnya.

Benda-benda antik yang rentan terhadap kerusakan umumnya terbuat dari bahan-bahan yang lunak, misalnya lukisan, naskah, dokumen, dan kain. Karena terbuat dari kertas dan bagian-bagian tumbuhan, benda-benda itu akan lebih mudah koyak. Jarang ada artefak-artefak seperti itu yang tahan sampai ratusan tahun.

Umumnya artefak-artefak kuno yang kurang terawat adalah milik instansi-instansi pemerintah. Kurangnya dana pemeliharaan dan kelangkaan sumber daya manusia sering dituding menjadi penyebab rusaknya berbagai koleksi milik museum atau lembaga sejenisnya. Contoh yang masih hangat adalah sejumlah lukisan milik Dewan Kesenian Jakarta yang rusak karena ruangan penyimpanan terlalu sempit dan pengap..


Konservator

Dari sekian banyaknya warisan budaya, lukisanlah yang boleh dibilang paling mendapat perhatian. Ini karena lukisan relatif lebih mudah ditangani daripada artefak-artefak lain. Di Indonesia, meskipun belum ada lembaga pendidikan formal, sudah ada beberapa konservator yang mampu mereparasi lukisan-lukisan rusak.

Profesi konservator lukisan memang masih tergolong langka. Dia bukan hanya memperbaiki lukisan yang amburadul, tetapi juga harus mampu membetulkan warna-warna lukisan yang sudah kusam agar berkesan baru kembali. Ketelitian, kesabaran, dan berbagai pengetahuan seni harus benar-benar dimiliki seorang konservator. Masalahnya, dia harus bisa melakukan riset warna, riset bahan, dan teknik-teknik perbaikan agar sebuah lukisan tidak hilang atau pudar nilai estetikanya.

Berbicara pemeliharaan lukisan, mungkin kita harus belajar dari konservator-konservator Eropa. Mereka, terutama para pegawai museum, sangat terampil menangani lukisan-lukisan yang berada dalam kondisi mengkhawatirkan, termasuk lukisan di tembok gereja atau bangunan-bangunan kuno lain. Mereka ditunjang oleh peralatan yang canggih, seperti kamera sinar X untuk mengamati detil dan komputer modern untuk berbagai analisis.

Memang, pekerjaan yang mereka lakukan baru rampung dalam waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tetapi hasil yang mereka capai sungguh mengagumkan dunia ilmu pengetahuan, seperti yang tampak dari lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci.

Selain lukisan, artefak lain yang perlu diperhatikan adalah dokumen yang umumnya berbahan kertas. Di negara kita baru kantor Arsip Nasional yang mampu menangani konservasi kertas, padahal jumlah arsip kertas dari seluruh Indonesia tak terhitung banyaknya.

Dalam penanganan arsip kertas, yang sulit dilakukan adalah menemukan huruf atau kata yang hilang. Jika sudah diperoleh, barulah kertas-kertas tersebut di-laminating. Teknik laminating merupakan cara yang efektif untuk melestarikan dokumen agar bisa bertahan dalam jangka waktu selama mungkin.


Museum

Di Indonesia sampai sekarang belum ada lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan ilmu konservasi. Sebenarnya sudah sejak lama ilmu konservasi merupakan bagian dari ilmu arkeologi, terutama semasa awal pemugaran Candi Borobudur di tahun 1970-an. Namun konservasi yang dilakukan baru terbatas pada batu-batu candi yang terkena penyakit batu, lumut, jamur, dan zat-zat organik lain.

Rencananya dalam ilmu arkeologi ada subdisiplin kemiko-arkeologi atau arkeologi kimia dengan titik sasaran konservasi artefak purba. Sayang pengadaan laboratorium pendukungnya terbentur masalah dana dan sumber daya manusia.

Beberapa museum di Indonesia tercatat sudah mempunyai bidang konservasi dalam struktur organisasinya. Yang relatif besar adalah Museum Nasional Jakarta. Dalam skala kecil, penanganan koleksi yang rusak sudah bisa dilakukan di sini. Penghilangan karat, penyambungan koleksi yang patah, atau pembersihan rutin merupakan pekerjaan sehari-hari para konservator museum. Namun dalam skala besar, seperti memperbaiki fosil manusia purba, keahlian mereka belum sampai ke sana. Masalahnya, untuk menangani artefak seperti itu dibutuhkan peralatan canggih, seperti kamera sinar X, komputer, dan tenaga berkualifikasi.

Diperkirakan jumlah artefak kuno yang memerlukan penanganan konservasi mencapai puluhan ribu buah. Bukan hanya mencakup lukisan, dokumen, naskah, dan kain. Tetapi juga artefak berbahan tanah, kayu, batu, logam, kaca, dan tulang. Sudah tentu harus ada tenaga yang mempunyai spesialisasi dalam bidang-bidang itu dengan dukungan berbagai perangkat kerjanya.

Di Indonesia banyak peninggalan budaya yang tersisa. Sudah seharusnya setiap propinsi memiliki museum atau pusat konservasi. Pemerintah pusat pun harus berupaya menyelenggarakan pendidikan singkat untuk para konservator dari seluruh Indonesia. Dengan demikian kelestarian artefak-artefak kuno lebih terjamin. Bangsa yang besar bukan hanya menghargai sejarahnya, tetapi juga mampu merawat sebaik-baiknya peninggalan bangsanya. (DJULIANTO SUSANTIO)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Kontak